Dolar Terus Menguat Di Tengah Perundingan Dagang AS-China

Bonus Welcome Deposit FBS

Indeks Dolar AS (DXY) menguat sekitar 0.1 persen ke kisaran 96.73 pada awal perdagangan sesi Eropa awal pekan ini (11/2). Di tengah minimnya rilis data ekonomi berdampak tinggi, investor dan trader mengalihkan perhatian pada perundingan perdagangan Amerika Serikat dan China yang sudah makin mendekati deadline. Hal itu meningkatkan minat beli aset-aset Safe Haven, khususnya Dolar AS.

Dolar Terus Menguat Di Tengah Perundingan Dagang AS-China

Nick Twidale dari Rakuten Securities mengatakan pada Reuters, “Perundingan AS-China adalah fokus besar pekan ini dan kekuatan Dolar AS mengindikasikan sentimen pasar yang berhati-hati saat ini, dikarenakan statusnya sebagai Safe Haven.”

Lanjutnya lagi, “Dolar Aussie dan Euro berada pada level-level rentan saat ini. Teredamnya sentimen risiko lebih lanjut, dapat mengakibatkan penurunan lebih jauh pada (nilai tukar) mata uang-mata uang ini.”

Sentimen pasar telah runtuh pada perdagangan hari Jumat lalu, setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan takkan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping untuk melakukan perundingan langsung. Padahal, jika tak ada kesepakatan yang tercapai hingga deadline 1 Maret, maka AS akan menaikkan tarif impor atas produk-produk China.

Baca Juga:   AUD / USD Melompat Pada Laporan PDB Aussie

Pekan ini, para negosiator AS akan kembali menekan China untuk menghormati hak kekayaan intelektual perusahaan-perusahaan AS. Perkara krusial tersebut merupakan salah satu komponen penting yang harus dimuat dalam kesepakatan dagang sebelum 1 Maret mendatang, untuk mencegah dinaikkannya tarif impor AS atas produk-produk China. Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin bakal datang langsung ke Beijing dalam rangkaian upaya untuk mencapai kesepakatan terkait.

Efek dari ketegangan seiring dengan mendekatnya deadline ini telah membebani pergerakan mata uang-mata uang berisiko lebih tinggi. Bukan hanya AUD dan EUR; mata uang NZD dan CAD pun terkekang oleh kekhawatiran pasar yang sedang berkembang. Pasalnya, apabila konflik perdagangan kedua negara ekonomi terbesar dunia tersebut berlanjut, maka berisiko mengancam stabilitas pertumbuhan ekonomi dunia secara keseluruhan. Kemungkinan itu telah disinyalir oleh berbagai pakar ekonomi dunia, bahkan dicantumkan juga oleh International Monetary Fund (IMF) dalam proyeksi ekonomi globalnya yang terbaru.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply