Ekonomi China Mencatat Pertumbuhan Paling Lambat Dalam 28 Tahun

Bonus Welcome Deposit FBS

Pada sesi Asia hari Senin ini (21/1), Biro Statistik Nasional China melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi hanya melaju 6.6 persen pada tahun 2018. Angka tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar sebelumnya, tetapi merupakan laju pertumbuhan ekonomi terburuk China sejak tahun 1990.

Ekonomi China Mencatat Pertumbuhan Paling Lambat Dalam 28 Tahun

Data GDP Tahunan China untuk 2018 terpuruk lantaran pertumbuhan GDP pada kuartal empat hanya mencapai 6.4 persen (year-on-year), turun dari 6.5 persen pada periode sebelumnya. Meski demikian, ada beberapa kabar baik terselip dalam beberapa laporan ekonomi lainnya.

Produksi Industri China bertumbuh 5.7 persen (yea-on-year) pada bulan Desember; melampaui ekspektasi pada 5.3 persen dan mengungguli pertumbuhan 5.4 persen yang tercapai pada bulan November. Data penjualan eceran China juga meningkat 8.2 persen; sesuai ekspektasi dan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 8.1 persen pada November.

“Apa yang kita lihat pada kuartal keempat adalah bahwa, meski perekonomian melambat, kita sebenarnya masih punya dukungan dari sebagian besar sektor berkat pengiriman ekspor lebih awal,” ujar Helen Zhu, pimpinan ekuitas China di BlackRock pada CNBC, merujuk pada tindakan para eksportit China yang berlomba-lomba mengirim barang sebelum tarif impor AS diberlakukan.

Baca Juga:   Jokowi Effect Memudar, Kurs Rupiah Melemah Pasca Paskah

Namun, menurut Zhu, walaupun ia memperkirakan ada dukungan dari konsumsi dan pemangkasan pajak, tetapi pertumbuhan China pada tahun 2019 masih akan melambat ketimbang tahun 2018.

Pimpinan biro statistik China, Ning Jizhe, menyampaikan pada reporter bahwa konflik perdagangan antara negaranya dan Amerika Serikat telah mempengaruhi ekonomi domestik. Namun, dampaknya dapat dikendalikan. Ia mengungkapkan, perekonomian China telah menampilkan perlambatan, tetapi tren mulai stabil dalam dua bulan terakhir, dan secara umum masih digerakkan oleh permintaan domestik.

Menyikapi masalah perlambatan ekonomi, analis memperkirakan Beijing akan kembali meluncurkan stimulus baru bulan depan. Tao Wang dari UBS Investment Bank mengatakan bahwa pihaknya memperkirakan Beijing akan memangkas Reserve Requirement Ratio lebih lanjut. Bersama dengan modifikasi kebijakan lainnya seperti pemangkasan pajak dan peningkatan belanja infrastruktur, Wang menilai pertumbuhan China bisa distabilkan sedemikian hingga perekonomian mengalami “soft landing“. Meski demikian, maka UBS memperkirakan pertumbuhan GDP China hanya akan melaju 6.1 persen pada tahun 2019.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply