Eskalasi Kecemasan Dampak COVID-19 Melumpuhkan Aussie Dan Kiwi

Afiliasi IB XM Broker

Pasangan mata uang AUD/USD longsor lebih dari 0.5 persen ke kisaran 0.6680 dalam perdagangan hari Selasa ini (18/2), sementara NZD/USD ambrol sekitar 0.8 persen ke kisaran 0.6385. Aksi risk-off terpicu oleh eskalasi kekhawatiran pasar terhadap potensi dampak wabah virus Corona COVID-19. Australia dan New Zealand memiliki keterkaitan ekonomi yang cukup tinggi dengan China, sehingga mata uang kedua negara menghadapi tekanan jual yang kuat.

Eskalasi Kecemasan Dampak COVID-19 Bikin Aussie Tersungkur

Kemarin, Apple merilis peringatan bahwa penjualan untuk kuartal pertama tahun 2020 kemungkinan gagal mencapai target. Berita ini langsung mengakibatkan aksi jual terhadap aset-aset berisiko tinggi seperti saham dan dolar komoditi.

“Pekerjaan dimulai kembali di seluruh negeri (China), tetapi kami mengalami proses lebih lambat dari ekspektasi dalam pemulihan ke kondisi normal. Hasilnya, kami tak memperkirakan akan dapat mencapai target pendapatan yang kami tunjukkan sebelumnya untuk kuartal Maret dikarenakan dua faktor. Pertama karena suplai iPhone global akan terkekang untuk sementara waktu… Kedua, karena permintaan untuk produk kami di dalam negeri China telah terpengaruh,” ungkap Apple.

Baca Juga:   Aussie Pulih Sedikit Tetapi Memegang Lemah Pada Kesenjangan Perdagangan Yang Lebih Luas

Pernyataan Apple menggarisbawahi dua sektor yang bakal terpukul oleh dampak wabah virus Corona, yaitu rantai pasokan barang elektronik dunia serta penjualan berbagai perusahaan multinasional yang memiliki pangsa pasar besar di China. Tak pelak, kekhawatiran merembet ke pasar komoditi.

“Rapuhnya komoditi industri dan larangan perjalanan China mengancam kelima ekspor utama Australia (batu bara, bijih besi, LNG, edukasi, dan pariwisata), mengarah pada kolapsnya surplus perdagangan mulai sejak data Januari,” kata Tim Ridell, seorang pakar strategi dari Westpac, “AUD, sebagai proxy bagi sentimen risiko global dan outlook pertumbuhan China, akan terus dibayangi oleh kekhawatiran terhadap COVID-19.”

Sentimen risk-off diperkuat oleh fakta bahwa berbagai negara asal mata uang mayor telah menghadapi ancaman resesi sejak akhir tahun lalu, termasuk Jepang dan Zona Euro. Situasi bisa makin buruk dalam beberapa waktu ke depan.

Kim Mundy dari CBA menyatakan, “Kami memperkirakan dampak negatif virus Corona yang lebih banyak terhadap perusahaan-perusahaan dalam beberapa bulan ke depan. Semakin menekan AUD/USD adalah ditariknya likuiditas oleh PBoC. Pergerakan ini mengecewakan partisipan pasar, karena mereka mengharapkan lebih banyak injeksi di tengah risiko yang dihadapi ekonomi China saat ini.”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply