Eskalasi Sengketa Dagang Bikin Dolar Tertekan Versus Yen Jepang

Afiliasi IB XM Broker

Indeks Dolar AS merosot sekitar 0.18 persen ke level 97.43 pada pertengahan sesi New York hari ini (5/12) sehubungan dengan makin memudarnya prospek kesepakatan dagang AS-China. Greenback defensif di kisaran 108.85 terhadap Yen Jepang, sementara EUR/USD menanjak sekitar 0.22 persen ke level 1.1101. Di sisi lain, Yen Jepang malah didongkrak oleh peluncuran stimulus fiskal besar-besaran oleh PM Shinzo Abe yang ditargetkan untuk menggairahkan perekonomian dalam lebih dari setahun ke depan.

Eskalasi Sengketa Dagang Bikin Dolar Tertekan Versus Yen Jepang

Kekhawatiran investor dan trader terhadap prospek kesepakatan dagang AS-China semakin memuncak. Dalam ajang KTT NATO kemarin, Presiden AS Donald Trump sempat mengungkapkan bahwa ia bersedia menunda pencapaian kesepakatan dengan China hingga seusai Pemilu Presiden AS 2020. Belakangan, Trump meralat ucapannya tersebut. Namun, pelaku pasar telanjur skeptis.

Tadi pagi, Kementrian Perdagangan China melalui juru bicaranya, Gao Feng, kembali menegaskan kepada media bahwa kesepakatan dagang hanya akan bisa dicapai jika Amerika Serikat bersedia mengurangi tarif impor yang telah dikenakan terhadap produk-produk China. Padahal, Trump dan jajarannya pernah mengisyaratkan keengganan untuk memangkas tarif impor untuk produk-produk China selama Beijing belum memenuhi tuntutan AS terkait perlindungan hak kekayaan intelektual dan transfer teknologi paksa.

Baca Juga:   Pound Bergerak Lebih Tinggi Setelah Update BoE

Kasak-kusuk seputar kesepakatan dagang AS-China ini mendorong kenaikan minat pelaku pasar terhadap aset-aset safe haven lagi. Yen Jepang unggul, sedangkan pasangan mata uang AUD/USD terpuruk hampir 0.4 persen di kisaran 0.6823.

Dari dalam negeri Jepang, sebuah berita lain justru meningkatkan kepercayaan investor terhadap Yen. PM Shinzo Abe meluncurkan paket stimulus masif senilai lebih dari 13 Triliun Yen hari ini. Paket stimulus tersebut diharapkan dapat menanggulangi risiko resesi yang muncul akibat perlambatan ekonomi global, perang dagang dengan Korea Selatan, naiknya pajak konsumsi, dan badai dahsyat beruntun yang menerjang Jepang selama 12 bulan terakhir.

Total stimulus senilai lebih dari 13 Triliun Yen tersebut merupakan gelontoran anggaran terbesar dalam tiga tahun terakhir, dan mencakup sekitar 1.9 persen dari GDP. Anggaran akan dikucurkan ke berbagai sektor melalui pemerintah pusat, daerah, dan pinjaman publik dalam kurun waktu 15 bulan ke depan.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply