Euro Ditekan Stagnasi Jerman Dan Pelemahan Neraca Dagang

Bonus Welcome Deposit FBS

Euro kembali merosot 0.32 persen ke kisaran 1.1259 terhadap Dolar AS menjelang akhir sesi Eropa hari Jumat ini (15/2). Walaupun pasangan mata uang EUR/USD belum mampu menembus level psikologis penting pada 1.1250, tetapi Euro digelayuti oleh sederetan masalah ekonomi yang memperburuk outlook fundamentalnya. Saat berita ditulis, Euro juga melemah terhadap Poundsterling dan Yen Jepang.

Euro Ditekan Stagnasi Jerman Dan Pelemahan Neraca Dagang

Data yang dirilis Eurostat hari ini menunjukkan bahwa suplus neraca perdagangan Zona Euro melorot dari 19 Miliar menjadi 17 Miliar Euro saja. Angka ini memperburuk sentimen pasar, setelah laporan terjadinya stagnasi dalam perekonomian Jerman yang dipublikasikan kemarin.

Jerman memiliki skala ekonomi terbesar diantara negara-negara anggota Zona Euro lainnya. Namun, perekonomiannya ternyata tak tumbuh sama sekali selama kuartal terakhir tahun 2018, meleset dari ekspektasi pertumbuhan 0.1 persen yang diharapkan oleh pelaku pasar. Sementara itu, meski laju GDP Zona Euro sesuai dengan ekspektasi, tetapi outlook pertumbuhan ke depan tetap suram.

“Euro/Dollar dan pasangan mata uang cross Euro lainnya terus ditekan oleh meningkatnya sinyal perlambatan dalam perekonomian Zona Euro,” ujar Fawad Razaqzada, analis pasar dari Forex.com, sebagaimana dikutip oleh MarketWatch. Lanjutnya, “Dengan Dolar AS terus mendapatkan dukungan terhadap pasangan mata uang lainnya, Euro/Dolar bisa tembus jauh ke bawah, setelah menghabiskan waktu selama sekitar 6 bulan terakhir ini untuk membangun basis di sekitar support jangka panjang pada kisaran $1.1300.”

Baca Juga:   Dolar Melayang Di Tertinggi 2 Minggu Karena Data AS Optimis

Menurutnya, apabila support itu benar-benar signifikan, maka semestinya pasar sudah menyaksikan reli Euro saat ini. Suupport kunci dapat dilihat pada level 1.1215, tempat jatuhnya Euro pada bulan November. Namun, apabila Euro meloncat hingga melampaui level tertinggi pekan ini pada 1.1340, maka Razaqzada menilai kalau itu bisa menginspirasi keyakinan di kalangan bullish Euro.

Rendahnya probabilitas kenaikan suku bunga bank sentral Eropa (ECB) juga turut membebani Euro. “Walaupun ECB mengindikasikan sebaliknya, (tetapi) kenaikan suku bunga pada kuartal III nampak makin tak mungkin saat ini, karena perkembangan fundmental belakangan, dengan situasi Brexit masih belum terselesaikan dan perekonomian Zona Euro melemah,” kata Razaqzada, menyinggung rencana ECB untuk menaikkan suku bunga pada musim panas mendatang.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply