Euro Longsor Gegara Inflasi dan Dilema Anggaran Italia

Bonus Welcome Deposit FBS

Euro merosot drastis pada hari-hari perdagangan terakhir pekan ini, setelah diberondong serentetan kabar buruk. Kabar-kabar tersebut termasuk isu anggaran Italia hingga buruknya data inflasi bulan September yang membuat pasar meragukan langkah kebijakan bank sentral Eropa berikutnya.

Menjelang pembukaan sesi New York hari Jumat (28/September), pasangan mata uang EUR/USD telah anjlok 0.55 persen ke kisaran 1.1576. Euro juga tunduk versus mata uang-mata uang mayor lainnya. EUR/CHF melorot 0.52 persen ke 1.1316, EUR/GBP menurun 0.28 persen ke 0.8873, sementara EUR/JPY terjun 0.60 persen ke 131.21.

Euro Longsor Gegara Inflasi dan Dilema Anggaran Italia

Dalam laporan preliminer, lembaga statistik Eropa, Eurostat, mencatat inflasi konsumen (Consumer Price Inflation) bulan September naik 2.1 persen (year-on-year), tetapi inflasi inti (Core CPI) justru menurun dari 1.0 persen menjadi 0.9 persen. Angka Core CPI tersebut merupakan yang terendah dalam lima bulan terakhir, sehingga menumbuhkan keraguan mengenai proyeksi kebijakan bank sentral Eropa (European Central Bank) ke depan.

“Inflasi 2 persen masih dikarenakan oleh harga minyak,” ujar Peter Van Houte, pimpinan ekonom Zona Euro di ING Group, “Namun, ECB akan menyelidiki efek-efek yang sementara seperti ini dan mecermati dinamika harga yang melandasinya.”

Baca Juga:   Dolar Yang Lebih Tinggi VS Euro, Sterling Dekat Tertinggi

Angka inflasi biasanya disoroti oleh pelaku pasar uang, karena berhubungan dengan suku bunga dan kebijakan moneter ECB lainnya yang mendasari perubahan nilai tukar. Sinyal perubahan kebijakan moneter ECB bisa memicu spekulan untuk membeli atau menjual Euro. Karena itulah beberapa hari lalu, Euro sempat menguat setelah pimpinan ECB, Mario Draghi, mengonfirmasi akan mulai memangkas stimulus moneter pada bulan Oktober dan kemungkinan menaikkan suku bunga akhir tahun depan. Akan tetapi, sejumlah ekonom memperingatkan agar jagan terlalu percaya pada Draghi, karena pernyataannya didukung oleh proyeksi ECB yang sebagaimana nampak pada laporan CPI kali ini, terlampau optimistis.

Sementara itu, Italia dan Uni Eropa terancam berkonfrontasi dikarenakan kebijakan anggaran Italia yang baru saja disetujui itu terlalu besar dan terancam melanggar aturan Uni Eropa. Berbagai partai di parlemen Roma menyepakati defisit anggaran sebesar 2.4 persen dari GDP untuk tiga tahun ke depan. Ambang tersebut masih di bawah level 3.0 persen yang ditentukan UE, tetapi sejumlah pihak menilainya sebagai keengganan Italia untuk mengendalikan utang negaranya sendiri dan kemungkinan akan ditolak oleh Brussels.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply