Euro Melemah Walau ECB Pangkas Stimulus Moneter

Bonus Welcome Deposit FBS

Euro melemah sekitar 0.40 persen ke kisaran 1.1312 terhadap Dolar AS pada awal perdagangan sesi Eropa hari Jumat ini (14/12). Pada sesi New York sebelumnya, bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB) menghentikan program pembelian obligasi sesuai ekspektasi, tetapi merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi di kawasan Zona Euro.

Selaras dengan perkembangan ini, Euro juga melemah terhadap Franc Swiss dan Yen Jepang. Saat berita ditulis, EUR/CHF menurun 0.25 persen ke level 1.1265, dan EUR/JPY anjlok sekitar 0.50 persen ke kisaran 1248.42. Diantara mata uang mayor, Euro hanya unggul versus Pounds karena kemelut Brexit di Inggris dipandang lebih ruwet oleh pelaku pasar.

Euro Melemah Walau ECB Pangkas Stimulus Moneter

Kemarin, ECB mengakhiri program stimulus moneternya yang telah berlangsung selama empat tahun dengan menghentikan program pembelian obligasi yang sejauh ini telah terakumulasi hingga 2.6 Triliun Euro. Di sisi lain, ECB membiarkan suku bunga acuan tetap pada -0.40 persen, serta merevisi turun outlook pertumbuhan regional.

“Melanjutkan keyakinan (akan outlook perekonomian) dan meningkatkan kehati-hatian (menghadapi risiko ke depan),” demikian diungkapkan oleh Presiden ECB, Mario Draghi dalam konferensi pers yang digelar seusai pengumuman kebijakan moneter terbaru. Sejalan dengan itu, Draghi menekankan bahwa suku bunga akan dipertahankan pada level rendah dalam rangka upaya mencapai target inflasi 2 persen. ECB juga akan terus melakukan reinvestasi dana yang diperoleh dari obligasi-obligasi yang telah jatuh tempo.

Baca Juga:   USD / JPY Flat Setelah Data Ekonomi Positif Dari Jepang

Pengumuman kali ini dipandang “dovish” oleh pelaku pasar dan berimbas bearish pada Euro, lantaran peningkatan probabilitas batalnya rencana kenaikan suku bunga pada musim panas mendatang. Sementara itu, outlook ekonomi Zona Euro juga semakin suram. Tak ada indikasi perekonomian telah membaik, meskipun ECB memutuskan untuk mengakhiri stimulus moneter.

Pertumbuhan ekonomi Jerman mengalami kontraksi, rencana anggaran Italia belum mencapai final, sedangkan risiko lain muncul dari Prancis. Guna meredam demonstrasi Gilets Jaunets, Presiden Prancis Emmanuel Macron terpaksa mengumumkan kenaikan gaji dan pemangkasan pajak. Kedua kebijakan itu dapat membawa konsekuensi negatif dengan membengkaknya defisit anggaran negara, bahkan dikhawatirkan bisa mencapai lebih dari ambang defisit 3 persen dari GDP yang telah ditentukan oleh Uni Eropa.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply