Euro Menggeliat, Tetapi Terancam Jatuh Lagi

Bonus Welcome Deposit FBS

Nilai tukar Euro mengalami pemulihan terhadap sejumlah mata uang mayor lainnya hari ini (19/4) di tengah sepinya perdagangan karena perayaan Jumat Agung. Pasangan mata uang EUR/USD berhasil menanjak 0.14 persen ke level 1.1246 pada pertengahan sesi Eropa, sementara EUR/JPY naik nyaris 0.1 persen ke level 125.85. EUR/GBP pun relatif stabil dekat kisaran 0.8645. Meski demikian, sejumlah analis khawatir kalau-kalau Euro bakal terus tertekan oleh bias bearish lantaran berbagai beban fundamental yang melingkupinya.

Euro Terancam Jatuh

Kemarin, Menteri Keuangan Jerman Olaf Sholz telah mengumumkan pemangkasan ekspektasi pertumbuhan Jerman, negara ekonomi terbesar di kawasan Euro yang juga berperan sebagai pusat pertumbuhan utama. Pengumuman tersebut dirilis hanya beberapa jam sebelum rilis data Purchasing Managers’ Index (PMI) Markit yang menunjukkan bahwa kinerja sektor manufaktur Jerman masih dilanda kemunduran sistemik akibat kemerosotan pesanan baru dari luar negeri.

Keduanya memicu aksi jual atas Euro, dan mengakibatkan yield obligasi Jerman tumbang seketika. Apalagi, data ekonomi mengungkap fakta bahwa rencana brexit juga berimbas negatif bagi negara-negara mitra dagang utama Inggris di Uni Eropa.

Baca Juga:   Keuntungan Yuan, Dolar AS Tergelincir Pada Prospek Kesepakatan Perdagangan

Sejalan dengan itu, sejumlah pelaku pasar makin khawatir jika stabilitas yang terus menurun nantinya mendorong bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB) untuk menjalankan pelonggaran moneter dalam skala lebih besar. Pasalnya, baru seminggu yang lalu, Presiden ECB Mario Draghi mengutarakan kemungkinan bagi bank sentral untuk “memberikan bantuan lebih besar” guna menanggulangi ancaman ekonomi di Zona Euro.

“Para investor khawatir mengenai kondisi kesehatan perekonomian global dan Zona Euro; sedangkan nilai Euro berhubungan erat dengan (kedua faktor) itu,” kata Ricardo Evangelista, seorang analis senior ActivTrades.

Sementara itu, konflik politik internal Italia memanas, padahal anggaran negaranya masih jadi sorotan. Realisasi defisit anggaran yang lebih besar dari rencana awal serta prospek pertumbuhan Italia yang lebih rendah, membuat pelaku pasar kembali waspada. Pasalnya, situasi tersebut membuka kemungkinan terjadinya konflik lagi antara Roma dan Brussels. Padahal, baru beberapa bulan lalu, Brussels berhasil memaksa para politisi Italia untuk mengurangi rencana defisit anggaran mereka.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply