Euro Menguat Tipis, Risiko Resesi Belum Sirna

Bonus Welcome Deposit FBS

Menjelang pembukaan sesi New York hari Selasa ini (12/2), Euro menguat sekitar 0.16 persen ke kisaran 1.1294 terhadap Dolar AS dari level terendahnya sejak November lalu. Euro juga unggul versus Yen dengan posisi EUR/JPY menguat 0.11 persen ke level 124.69, sementara EUR/GBP nyaris statis di sekitar 0.8769. Meski demikian, rumor mengenai ancaman resesi ekonomi di kawasan Euro belum sirna.

Euro Menguat Tipis, Risiko Resesi Belum Sirna

Para pakar dan pengamat pasar bersilang pendapat mengenai potensi resesi di kawasan Euro, walaupun sepakat kalau momentum pertumbuhan sudah memudar. Konsensus umum menunjukkan kalau resesi ringan bisa terjadi. Sementara itu, keluarnya Inggris dari Uni Eropa diprediksi juga akan berimbas buruk bagi negara-negara anggotanya yang memiliki hubungan dagang erat dengan London.

Ken Wattrett, pimpinan ekonom Eropa di IHS Markit, menyatakan dalam catatan terbarunya, “Kami menilai risiko resesi ‘teknikal’ (di Zona Euro) antara satu banding tiga”. Namun demikian, ia menilai “risiko parah” tetap tak mungkin terjadi, jika tak ada pemicu seperti stress dalam sistem keuangan dan pengetatan kebijakan.

Baca Juga:   Kemerosotan Sterling Ke Posisi Terendah 2 Bulan Di Tengah Kecemasan Brexit

Presiden Bundesbank, Jens Weidmann, juga mengakui bahwa Zona Euro tidak anti krisis dan bank sentral Eropa bisa jadi akan terpaksa berperan sebagai unit respons krisis dalam situasi darurat. Sebagai pimpinan bank sentral Jerman, ia termasuk salah satu pengambil kebijakan utama dalam bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB).

Dalam pidatonya hari ini, Weidmann mengungkapkan kekhawatiran kalau berbagai negara dalam Uni Eropa kekurangan perangkat dan kemampuan untuk menanggulangi (apabila) terjadi krisis.

“Isu-isu tertentu seperti kurangnya kredibilitas aturan fiskal atau hubungan erat perbankan-pemerintah yang berbahaya masih perlu ditanggulangi,” katanya, tanpa menyinggung soal kebijakan moneter bank sentral. Di sisi lain, jika bank sentral terpaksa harus merespons sendiri kondisi krisis, maka Weidmann menilai hal itu akan mengancam kepercayaan masyarakat pada otoritas moneter.

“Bertindak di luar mandat juga akan mengurangi kepercayaan masyarakat pada bank sentral,” kata Weidmann, “Pada akhirnya, akan menjadi makin dan makin sulit bagi European Central Bank untuk berfokus pada janjinya untuk menstabilkan mata uang.”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply