Euro Siap Menguat Dua Pekan Beruntun Berkat Depresiasi Dolar

Afiliasi IB XM Broker

Euro melonjak lebih dari 0.3 persen ke kisaran 1.1250 terhadap Dolar AS pada pertengahan sesi New York hari Jumat ini (10/5), seiring dengan makin parahnya depresiasi Greenback. Laporan CPI serta ketidakpastian mengenai negosiasi dagang AS-China telah menekan Dolar AS, karena bank sentralnya lagi-lagi dikhawatirkan akan memangkas suku bunga. Pelemahan Dolar AS tersebut memberi peluang bagi Euro untuk naik panggung dan memantapkan relinya menuju kenaikan dua pekan beruntun.

Euro Siap Menguat Dua Pekan Beruntun Berkat Depresiasi Dolar

Pengumuman Presiden AS Donald Trump mengenai kenaikan tarif impor atas USD200 Miliar produk China dari 10 persen menjadi 25 persen pada hari ini telah memicu reaksi keras dari Beijing. China mengungkapkan bahwa mereka siap melancarkan tindakan balasan. Malam ini, kedua belah pihak masih melanjutkan perundingan yang diharapkan menghasilkan kesepakatan ideal. Namun, pelaku pasar tetap mengkhawatirkan dampak konflik ini terhadap perekonomian.

Athanasios Vamvakidis dari Bank of America Merrill Lynch mengungkapkan bahwa jika China membalas, maka ancaman perang dagang akan memengaruhi outlook ekonomi AS. Hal itu juga bakal meningkatkan peluang pemangkasan suku bunga Fed.

Baca Juga:   BERITA SAHAM SENIN 03/12/2018 - PENJUALAN NETO TIRA CAPAI Rp209,30 MILIAR HINGGA SEPTEMBER 2018

Katanya, “Dalam hal ini, Fed punya lebih banyak ruang untuk melonggarkan (kebijakan moneter) dibandingkan sebagian besar bank sentral lain, (sehingga) mengindikasikan dolar yang pada akhirnya lebih lemah dibandingkan baik Euro maupun Yen.”

Reli Euro makin menajam, setelah rilis data CPI AS malam ini menampilkan angka yang lebih rendah dibandingkan estimasi awal. US Bureau of Labor Statistics (BLS) melaporkan bahwa laju CPI hanya meningkat 0.3 persen (Month-over-Month) pada bulan April 2019, padahal sebelumnya diperkirakan akan naik 0.4 persen. Indeks Core CPI juga hanya menanjak 0.1 persen (Month-over-Month). Ringkasnya, laporan CPI minggu ini kompak menunjukkan lemahnya tekanan harga di negeri Paman Sam, sehingga kian meningkatkan spekulasi mengenai prospek pemangkasan suku bunga Fed.

Kendati demikian, apabila konflik dagang makin sengit dan perekonomian AS memburuk, Euro juga bisa terdampak. Sebagaimana diungkapkan oleh John Marley dari SmartCurrencyBusiness, Eropa dipandang sebagai salah satu barometer pertumbuhan global, sedangkan pasar justru akan mendapatkan manfaat dari kesepakatan apapun yang tercapai antara China dan AS.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply