Euro Terpuruk Setelah Rilis Data PPI Bulan Februari 2019

Bonus Welcome Deposit FBS

Mata uang Euro merosot untuk hari keenam berturut-turut dan makin mendekati level terendah sebulan, setelah rilis data Producer Price Index (PPI) bulan Februari 2019 yang cenderung mengecewakan. Saat berita ditulis pada pertengahan sesi Eropa hari Selasa ini (2/4), pasangan mata uang EUR/USD telah melorot sekitar 0.15 persen ke kisaran 1.1200, sementara EUR/GBP melandai 0.05 persen ke level 0.8575 dan EUR/JPY rontok 0.12 persen ke level 124.70.

Euro Terpuruk Setelah Rilis PPI Bulan Februari 2019

Eurostat melaporkan bahwa data PPI Zona Euro hanya mengalami pertumbuhan 3.0 persen (Year-on-Year), bukannya naik 3.1 persen sesuai ekspektasi. Pertumbuhan PPI dalam basis bulanan juga hanya naik 0.1 persen, lebih rendah dibandingkan kenaikan 0.3 persen pada periode sebelumnya. Kenaikan moderat acuan indikator inflasi produsen ini pun bukan merupakan kabar menggembirakan, karena sifatnya dikhawatirkan hanya temporer.

Eurostat juga menyatakan bahwa pendorong kenaikan inflasi produsen sepanjang bulan Februari adalah harga energi yang meningkat 0.2 persen (Month-over-Month), atau naik 8.0 persen dalam basis tahunan. Apabila kenaikan komponen harga energi yang volatilitasnya tinggi ini tak diperhitungkan, maka PPI terhitung flat dalam basis bulanan dan hanya naik 1.2 persen secara Year-on-Year.

Baca Juga:   Dolar Menguat Setelah Data AS Yang Positif

Apabila dikombinasikan dengan laporan inflasi konsumen dan indeks manufaktur yang dirilis pada hari Senin, maka diperoleh gambaran outlook ekonomi Zona Euro yang relatif suram. Sejumlah negara ekonomi utama di kawasan ini berhasil lolos dari resesi pada akhir tahun lalu, tetapi momentum pertumbuhan masih terus memudar sepanjang kuartal pertama tahun ini.

Dalam rangka mendorong pencapaian target inflasi 2 persen dan menggairahkan kembali pertumbuhan ekonomi, bank sentral Eropa telah membatalkan rencana kenaikan suku bunganya dalam tahun 2019. Bahkan, mereka diperkirakan akan mengumumkan program pelonggaran moneter baru dalam beberapa bulan ke depan, untuk melengkapi kebijakan suku bunga negatif yang masih diberlakukan hingga saat ini.

Sebagai perbandingan, Amerika Serikat menunjukkan performa ekonomi lebih baik, meskipun bank sentralnya juga membatalkan rencana kenaikan suku bunga tahun 2019. Pasangan mata uang EUR/USD sempat menguat tipis pasca rilis data penjualan ritel AS yang mengecewakan kemarin, tetapi kemudian melemah kembali setelah rilis data PMI Manufaktur AS. Lembaga riset ISM melaporkan bahwa PMI untuk sektor manufaktur AS meningkat dari 54.2 menjadi 55.3 pada bulan Maret, jauh lebih tinggi dibandingkan ekspektasi yang dipatok pada 54.5.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply