Fed Bersikap Dovish, Bank Indonesia Tak Ubah Suku Bunga

Bonus Welcome Deposit FBS

Bank Indonesia tak merubah suku bunga acuannya pada rapat Dewan Gubernur yang digelar tanggal 20 Desember lalu, menyusul tindakan bank sentral AS (Federal Reserve) mengurangi proyeksi kenaikan suku bunga tahun depan. Menanggapi kabar tersebut, referensi nilai tukar resmi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) melandai dari Rp14,499 ke Rp14,480, sementara kurs USD/IDR menanjak 0.24 persen ke level Rp14,500 dalam perdagangan hari Jumat ini (21/12).

Bank Indonesia Tak Ubah Suku Bunga

Kemarin, Bank Indonesia membiarkan tingkat 7-Day Repo Rate (7DRRR) tetap pada taraf 6 persen, sejalan dengan ekspektasi hampir semua ekonom yang disurvei oleh kantor berita Bloomberg. Bank sentral Indonesia telah mengikuti jejak laju kenaikan suku bunga Fed dalam tahun 2018, sehingga proyeksi perlambatan “Fed Rate Hike” tahun depan yang diumumkan beberapa hari lalu, dianggap mengurangi tekanan atas Neraca Transaksi Berjalan.

“Bank Indonesia meyakini bahwa level suku bunga saat ini masih konsisten dengan upaya untuk mengurangi defisit neraca berjalan hingga mencapai level yang aman dan untuk menjaga daya tarik aset-aset finansial domestik, termasuk dengan memperhitungkan tren perubahan suku bunga global dalam beberapa bulan ke depan,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo, sebagaimana dikutip oleh Bloomberg.

Baca Juga:   USD / JPY Stabil Pada Ketidakpastian Geopolitik, Data Jepang

Pada tahun 2019, Bank Indonesia mengekspektasikan Federal Reserve akan menaikkan suku bunga sebanyak dua kali. Selain itu, BI memprediksi pertumbuhan ekonomi domestik tahun depan akan mencapai 5.0-5.4 persen, sementara inflasi diperkirakan tetap dalam kisaran target bank sentral pada 2.5-4.5 persen dengan rata-rata 3.2 persen.

“Keputusan ini sesuai dengan ekspektasi kami, terutama karena Fed yang kurang agresid. Namun, Bank Indonesia akan terus mewaspadai risiko-risiko eksternal,” kata Enrico Tanuwidjaja dari PT UOB Indonesia, Jakarta. Sedangkan Wisnu Wardana dari PT Bank Danamon Indonesia mengungkapkan, “Kami kira, bank sentral mulai mempertimbangkan dampak perlambatan ekonomi global yang secara alamiah akan menutup ketidakseimbangan permintaan domestik dan eksternal.”

Angka defisit Neraca Transaksi Berjalan Indonesia masih menjadi salah satu pokok masalah paling mengkhawatirkan, setelah membengkak hingga 3.4 persen dari GDP (Gross Domestic Product) pada kuartal III/2018. Namun, Bank Indonesia memperkirakannya akan turun ke 2.5 persen dalam tahun 2019 mendatang.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply