GBP/USD Melonjak Setelah GDP Catat Rekor Tertinggi Empat Bulan

Bonus Welcome Deposit FBS

Pasangan mata uang GBP/USD melonjak nyaris 1 persen ke kisaran 1.2767 pada pertengahan sesi Eropa hari Jumat ini (11/1), setelah rilis data GDP menunjukkan pertumbuhan tertinggi dalam empat bulan terakhir. Walaupun serangkaian data lainnya memerah, tetapi ekspektasi pasar akan voting kesepakatan Brexit minggu depan juga menunjang penguatan Poundsterling saat ini.

GBP/USD Melonjak Setelah GDP Catat Rekor Tertinggi Empat Bulan

Lembaga statistik nasional Inggris mengumumkan data Gross Domestic Product (GDP) naik 0.2 persen, dua kali lipat lebih tinggi ketimbang estimasi awal pada 0.1 persen. Kabar baik tersebut mengimbangi data produksi industri dan manufaktur, serta neraca perdagangan yang mengecewakan.

Industrial Production melorot 0.4 persen (MoM) dan Manufacturing Production menurun 0.3 persen dalam bulan November di Inggris. Dalam basis year-on-year, Industrial Production sudah merosot 1.5 persen dan Manufacturing Production turun 1.1 persen. Neraca Perdagangan Inggris pun memburuk dengan mencatat peningkatan defisit dari 11.95 Milyar menjadi 12.02 Milyar pada bulan November 2018.

Sementara itu, berbagai spekulasi merebak di media sehubungan dengan rencana parlemen Inggris untuk mengadakan voting pada hari Selasa mendatang atas kesepakatan Brexit yang diajukan oleh PM Theresa May. Walaupun proyeksi sementara menunjukkan bahwa kesepakatan tersebut takkan memperoleh cukup suara untuk disahkan, tetapi sejumlah pakar tetap optimis.

Baca Juga:   Dolar Mendekati 13,5 Tahun Tinggi, Didukung Oleh Kenaikan Suku Bunga

Awal pekan ini, para pakar mata uang dari Goldman Sachs merilis perkiraan mereka bahwa Poundsterling akan menguat versus Euro dalam tiga bulan ke depan. Prediksi tersebut bersumber dari keyakinan bahwa para politisi Inggris akan berupaya menghindari “No-Deal Brexit”, sehingga Parlemen Inggris bakal menyetujui suatu kesepakatan tertentu dengan Uni Eropa dalam beberapa pekan ke depan, sebelum deadline 29 Maret tiba.

Di sisi lain, perdagangan Dolar AS hari ini dibebani oleh pudarnya ekspektasi kenaikan suku bunga. Pada hari Kamis, ketua Fed Jerome Powell menegaskan kembali bahwa bank sentral AS memiliki kemampuan untuk lebih bersabar dalam penetapan kebijakan moneter, karena laju inflasi masih stabil. Investor dan trader menerjemahkan pernyataan tersebut sebagai sinyal bahwa suku bunga AS saat ini sudah pada level netral, sehingga Fed takkan menaikkan suku bunga lagi dalam tahun 2019. Akibatnya, Dolar AS melemah terhadap berbagai mata uang mayor lainnya.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply