GBP/USD Terkoreksi, Mengantisipasi Voting Parlemen Inggris

Bonus Welcome Deposit FBS

Pasangan mata uang GBP/USD terkoreksi 0.3 persne ke kisaran 1.2889, menjauh tipis dari rekor tertinggi sejak pertengahan Mei yang dicapainya kemarin. Para trader dan investor memantau voting parlemen terhadap draft kesepakatan brexit (EU Withdrawal Agreement) yang telah diperoleh PM Boris Johnson dalam perundingannya dengan Uni Eropa. Hasil voting berpotensi memicu pergolakan harga dalam semua pair GBP.

GBPUSD Terkoreksi Mengantisipasi Voting Parlemen Inggris

Setelah bersusah payah membujuk para anggota parlemen, PM Boris Johnson akhirnya berhasil mengamankan agenda voting kedua hari ini, Selasa 22 Oktober 2019. Voting pertama akhir pekan lalu berakhir dengan kegagalan. Namun, diadakannya voting saja tak menjamin persetujuan mayoritas anggota parlemen terhadap draft EU Withdrawal Agreement yang diboyongnya. Apabila para anggota parlemen menolaknya, maka risiko No-Deal Brexit memiliki peluang untuk kembali meningkat signifikan.

“Kami kira Sterling bisa mencapai USD1.32-USD1.34 jika deal disahkan pada tinjauan kedua hari ini,” kata Petr Krpata, seorang pakar strategi mata uang di ING Bank, “Namun, meskipun lolos (voting parlemen), masih ada risiko semuanya tidak akan berjalan lancar. Itulah mengapa Sterling berada sekitar USD1.40 setelah deal disepakati, tetapi pekan ini nampak agresif.”

Baca Juga:   Tepi USD / JPY Lebih Tinggi Menjelang Data Pekerjaan AS

Ada dua voting penting yang akan diadakan di parlemen Inggris hari ini. Voting pertama pada pukul 7:00 malam waktu London akan menentukan apakah parlemen menyetujui substansi EU Withdrawal Agreement. Voting kedua pada pukul 7:15 malam waktu London akan sepenuhnya menggugurkan jalan draft kesepakatan itu di parlemen Inggris, sehingga PM Johnson hampir tak mungkin mengejar deadline brexit pada tanggal 30 Oktober mendatang.

Sementara itu, risiko pemilu dini juga akan kembali mengemuka jika Johnson kalah telak dalam kedua voting tersebut. Biarpun seandainya Inggris berhasil memundurkan deadline brexit dari tanggal 30 Oktober 2019 menjadi 31 Januari 2020, pemilu akan memicu ketidakpastian yang tak disukai oleh pelaku pasar.

“Secara umum, (risiko) penurunan masih jauh lebih kecil daripada hasil No-Deal,” kata Jeremy Stretch dari Canadian Imperial Bank of Commerce (CIBC). Meski demikian, menurutnya, pemilu di Inggris sebelum akhir tahun ini bisa mengakibatkan kemerosotan GBP menuju level USD1.24, atau menurun 4 persen dari kisaran posisi saat ini.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply