GDP China Dorong Dolar Australia Capai Tertinggi Sejak Februari

Afiliasi IB XM Broker

Pasangan mata uang Dolar Australia meroket ke level tertinggi dua bulan pada hari Rabu (17/4), karena pertumbuhan ekonomi China tetap stabil dalam kuartal pertama tahun 2019. Pasangan mata uang AUD/USD naik sekitar 0.4 persen ke kisaran 0.7205, sementara AUD/NZD melonjak 0.7 persen ke level 1.0683. Penguatan ini bertolak belakang dengan bias kebijakan bank sentral Australia yang masih bearish, tetapi mampu merubah outlook Aussie karena besarnya pengaruh pemulihan ekonomi China bagi negara-negara mitra dagangnya.

Menurut laporan resmi, GDP China berhasil mencatat pertumbuhan 6.4 persen (Year-on-Year) pada kuartal pertama tahun ini, sementara produksi industri melonjak 8.5 persen (Year-on-Year) pada bulan Maret, dan tingkat pengangguran turun dari 5.3 persen menjadi 5.2 persen. Masing-masing data itu sukses mengungguli estimasi awal para analis dan ekonomi.

Publikasi rangkaian data tersebut turut mendongkrak prospek Dolar Australia, karena pentingnya posisi China sebagai salah satu pangsa pasar ekspor komoditi utama bagi negeri Kanguru.

Martin Essex dari DailyFX mencatat, “Nilai AUD/USD dipandang luas sebagai proxy China karena ketergantungan Australia terhadap ekspor ke negeri itu, yang nampaknya melawan kekhawatiran mengenai perlambatan lebih lanjut. Namun demikian, meski angka-angka mensinyalkan bahwa stimulus fiskal Beijing memberikan dampak positif, (saat ini) masih terlalu dini untuk memproyeksikan pertumbuhan berkelanjutan.”

Baca Juga:   Euro Tergelincir Setelah Kenaikan Mingguan Terbesar Dalam Sebulan Seiring Dengan Batas Waktu Catalonia

Lebih lanjut, ia menilai, “Gambaran teknikalnya konstruktif dan penguatan AUD/USD sekarang bisa diproyeksikan asalkan data-data di masa depan terus menerus mengarah pada stabilisasi perekonomian China dan optimisme terus ada terkait perundingan perdagangan AS-China.”

Senada dengan Essex, Yukio Ishizuki, pakar strategi forex senior Daiwa Securities mengatakan kepada Reuters, “Walaupun bank sentral Australia terdengar dovish, sesungguhnya pemotongan suku bunga bukan pilihan yang dapat dilakukan sekarang. Faktor tersebut, serta harga bijih besi yang lebih tinggi, dapat mendongkrak Dolar Australia menguat dalam jangka panjang.”

Sementara itu, indeks Dolar AS (DXY) melemah 0.21 persen karena adanya kenaikan minat risiko yang menyertai rilis GDP China dan minimnya katalis dari Amerika Serikat. Pelaku pasar memilih untuk mengalihkan dananya ke aset-aset keuangan berisiko lebih tinggi seperti Dolar Australia.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply