GDP Indonesia Lampaui Ekspektasi, Kurs Rupiah dan IHSG Menguat

Bonus Welcome Deposit FBS

Laporan Gross Domestic Product (GDP) Indonesia untuk kuartal IV/2018 yang dirilis tadi pagi (6/2) menunjukkan pertumbuhan ekonom lebih tinggi dibandingkan ekspektasi awal. Menanggapi laporan tersebut, kurs Rupiah menguat dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) meroket.

Nilai tukar resmi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menguat dari Rp13,976 menjadi Rp13,947. Kurs USD/IDR dalam perdagangan spot mata uang juga merosot 0.25 persen ke kisaran Rp13,915; mencapai rekor terbaik sejak Juni 2018. Sementara itu, IHSG ditutup meningkat lebih dari 1 persen ke level 6,547.88 pada akhir sesi kedua.

GDP Indonesia Lampaui Ekspektasi

Bank Indonesia melaporkan bahwa GDP tercatat -1.69 persen (Quarter-over-Quarter) pada kuartal IV/2018. Angka tersebut mengindikasikan perlambatan yang lebih buruk ketimbang kenaikan 3.09 persen pada periode sebelumnya, tetapi lebih baik ketimbang ekspektasi -1.75 persen yang diperkirakan para ekonom.

Dalam basis tahunan, GDP juga meningkat dari 5.17 persen menjadi 5.18 persen (Year-on-Year), walaupun sebelumnya pertumbuhan diestimasi tergelincir ke 5.11 persen. Menurut badan statistik, laju GDP 5.17 persen merupakan pertumbuhan tercepat sejak tahun 2013.

Baca Juga:   AUD / USD Menurun Setelah Data Penjualan Ritel

Peningkatan terutama ditunjang oleh kenaikan konsumsi rumah tangga yang didorong oleh pemangkasan harga BBM dan penyaluran subsidi langsung. Selain itu, investasi juga meningkat 6.01 persen dibandingkan setahun yang lalu, sementara ekspor melejit 4.33 persen.

Dikutip oleh Bloomberg, Dian Ayu Yustina dari PT Bank Danamon mengatakan, “Angka kuartal empat yang bagus mensinyalkan bahwa permintaan domestik masih bagus… Kami mengekspektasikan tren tersebut terus berlanjut tahun ini, terutama konsumsi rumah tangga dan pemerintah. Pertumbuhan yang lebih baik dari ekspektasi bisa menyediakan sejumlah kelegaan bagi bank sentral dan menempatkan lebih banyak perhatian pada defisit neraca transaksi berjalan dan rupiah.”

Menurut Yustina, Bank Indonesia kemungkinan mempertahankan suku bunga pada bulan Februari, serta tetap memasang pose hawkish. Alasannya, “Kita belum keluar dari masalah, dengan ekspektasi defisit neraca transaksi berjalan yang besar di kuartal keempat.”

Meski demikian, data GDP terbaru ini juga menumbuhkan optimisme. Myrdal Gunarto dari Maybank Indonesia berpendapat kalau data pertumbuhan ekonomi yang positif semestinya mendorong investor asing masuk, menopang mata uang dan saham-saham Indonesia.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply