GDP Inggris Melambat, Pound Ditopang Ekspektasi Hasil Pemilu

Bonus Welcome Deposit FBS

Pasangan mata uang GBP/USD diperdagangkan dalam kisaran terbatas dekat rekor tertinggi tujuh tahun pada level 1.3168 dalam perdagangan sesi New York hari ini (10/12) berkat optimisme pasar mengenai proyeksi hasil pemilu Inggris tanggal 12 Desember besok. Laporan pertumbuhan ekonomi Inggris kuartal III/2019 yang baru saja dipublikasikan, menampilkan laju GDP (Gross Domestic Product) lebih lambat dibandingkan periode sebelumnya. Namun, pelaku pasar meyakini kalau outlook ekonomi akan membaik tahun depan apabila pemilu menghasilkan pemerintahan mayoritas yang didominasi partai Konservatif.

GDP Inggris Melambat GBP Ditopang Ekspektasi Hasil Pemilu

UK Office for National Statistics (ONS) melaporkan bahwa pertumbuhan GDP Inggris mencetak rekor 0 persen (Quarter-over-Quarter) selama kuartal tiga tahun ini, lantaran memburuknya sektor konstruksi. Pencapaian itu lebih baik daripada ekspektasi ekonom yang hanya sebesar -0.2 persen, tetapi lebih buruk ketimbang prestasi ekspansi GDP 0.3 persen pada kuartal kedua. Hal ini juga mengakibatkan perlambatan laju GDP dari 0.9 persen jadi 0.7 persen (Year-on-Year).

Terlepas dari itu, Pound tetap unggul terhadap Greenback, Yen Jepang, dan beberapa mata uang mayor lain. Pasalnya, trader dan investor meyakini hasil pemilu besok bakal memuluskan jalan Inggris untuk keluar dari Uni Eropa (brexit) serta memberikan kejelasan bagi beragam sektor bisnis tahun depan, memungkinkan pertumbuhan ekonomi untuk melaju lagi dengan cepat.

Baca Juga:   Ekspor Jepang Tumbang, USD/JPY Reli

Samuel Tombs dari Pantheon Macroeconomics mengatakan, “Dengan GDP pada bulan Oktober hanya setara dengan rerata kuartal ketiga, nampaknya sekarang (pertumbuhan ekonomi Inggris) akan gagal mencapai forecast MPC untuk kenaikan 0.2 persen (QoQ) pada kuartal keempat. Meski demikian, jika pemilihan umum menghasilkan mayoritas (yang cukup memadai) di Parlemen untuk meratifikasi kesepakatan (brexit yang diperoleh) perdana menteri atau mengubah arah menuju bentuk brexit yang lebih lunak atau tak ada (brexit) sama sekali, maka pemulihan selanjutnya dalam keyakinan bisnis dan konsumen kemungkinan akan memungkinkan perekonomian memperoleh sejumlah momentum kembali.

Brexit telah mengakibatkan penurunan investasi bisnis di Inggris, serta mengakibatkan fluktuasi drastis dalam tingkat inventori industri manufaktur. Kedua hal itu berdampak buruk terhadap angka GDP secara keseluruhan. Semakin cepat masalah brexit terselesaikan, semakin cepat perekonomian Inggris dapat pulih kembali. Oleh karena itu, banyak pihak mendukung prospek kemenangan partai Konservatif yang dipimpin oleh PM Boris Johnson. Johnson dan Konservatif diharapkan dapat memecah kebuntuan politik yang menjebak Inggris saat ini, sekaligus melaksanakan brexit sesuai deadline pada tanggal 31 Januari 2020 tanpa penundaan tambahan.

Baca Juga:   Harga Minyak Lebih Tinggi, Bensin Tergelincir Saat Kilang Kembali Setelah Badai Harvey

Sejumlah hasil polling terbaru menunjukkan peningkatan dukungan untuk partai Konservatif. Peluang kemenangan mayoritas di parlemen pun terhitung cukup besar, sehingga Pound menguat pesat terhadap beragam mata uang lain pada perdagangan awal pekan. Namun, apabila proyeksi kemenangan partai Konservatif itu tak terwujud, maka Pound kemungkinan bakal menghadapi aksi jual besar-besaran di pasar mata uang.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply