GDP Jepang Melempem, Dolar AS Menguat Versus Yen

Afiliasi IB XM Broker

Pasangan mata uang USD/JPY menguat sekitar 0.1 persen ke kisaran 109.88 dalam perdagangan hari ini (17/2), menanggapi laporan pertumbuhan ekonomi Jepang yang mengecewakan. Alih-alih meningkat, perekonomian Jepang malah menciut pada akhir tahun 2019 lalu. Prospek ekonomi ke depan pun cukup suram karena ancaman dampak wabah virus Corona.

Dolar AS Menguat Versus Yen

Data preliminer dari Kantor Kabinet Jepang menunjukkan pertumbuhan GDP merosot 1.6 persen (Quarter-over-Quarter) pada kuartal IV/2019, lebih buruk dibandingkan penurunan 1.0 persen yang diperkirakan pelaku pasar sebelumnya. Pelemahan drastis terutama diakibatkan oleh jatuhnya konsumsi swasta pasca diberlakukannya kenaikan pajak penjualan dari 8 persen menjadi 10 persen pada bulan Oktober, di samping faktor eksternal seperti sengketa dagang.
Konsumsi swasta jatuh hingga 3.0 persen pada kuartal keempat, padahal sempat meningkat 0.4 persen pada kuartal ketiga. Investasi bisnis juga mengalami kontraksi hingga 3.7 persen pada kuartal keempat, setelah meningkat 0.5 persen pada kuartal ketiga.

“Kami telah berulang kali memeringkatkan bahwa para pengambil kebijakan telah meremehkan dampak kenaikan pajak,” kata Freya Beamish, pimpinan ekonom Asia di Pantheon Macroeconomics, “Kami memperkirakan sejumlah revisi naik pada inventori, tetapi nampaknya GDP masih akan gagal pulih pada kuartal pertama dikarenakan imbas virus dan shutdown di China terhadap ekspor, sekaligus dampak bagi pariwisata dan keyakinan domestik.”

Baca Juga:   Berita Saham BBCA SENIN 12/03/2018

“Skala pelemahan ekonomi ini mengejutkan, karena pemerintah Jepang telah memberlakukan kebijakan dalam upaya meredam dampak negatif dari kenaikan pajak penjualan sebesar 2 persen yang diimplementasikan pada awal Oktober. Ini akan meningkatkan keraguan terhadap kesehatan ekonomi Jepang dan kemampuannya untuk rebound dalam kuartal yang akan datang,” ujar Lee Hardman, analis mata uang di MUFG Bank.

Di sisi lain, para pakar meyakini data ini bakal mendorong PM Shinzo Abe untuk meluncurkan stimulus tambahan. Bank sentral Jepang (BoJ) juga disinyalir tak akan tinggal diam. Padahal, kebijakan moneter lebih longgar berpotensi terus menekan nilai tukar Yen.

“Prospek stimulus BoJ lebih lanjut semestinya terus menjaga Yen tetap lemah,” tambah Hardman, “Mengemukanya virus Corona baru-baru ini dan potensi disrupsi-nya terhadap pertumbuhan awal tahun ini, memperkuat risiko penurunan pertumbuhan dalam jangka pendek. Dalam situasi ini, para pengambil kebijakan di Jepang menghadapi tekanan lebih besar untuk memberikan stimulus tambahan dalam bentuk pelonggaran fiskal dan atau moneter.”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply