GDP New Zealand Loyo, Dolar Kiwi Tumbang

Bonus Welcome Deposit FBS

Dolar New Zealand jatuh sekitar 0.30 persen ke kisaran 0.6750 terhadap Dolar AS pada awal sesi Eropa hari Kamis ini (20/12), setelah pertumbuhan Gross Domestic Product (GDP) dirilis lebih rendah dari ekspektasi. Kiwi juga lumpuh versus mata uang negara jirannya, dengan AUD/NZD melonjak 0.36 persen ke level 1.0504 pada perdagangan intraday.

GDP New Zealand Loyo Dolar Kiwi Tumbang

Awal pekan ini, Dolar New Zealand sempat bangkit berkat hasil survey sentimen bisnis yang lebih baik. Namun, nampaknya rebound tersebut tak bertahan lama. Badan Statistik New Zealand melaporkan bahwa GDP Kuartal III/2018 hanya tumbuh 0.3 persen (Quarter-over-Quarter). Angka tersebut jauh lebih rendah dari pertumbuhan 1.0 persen pada kuartal sebelumnya, serta lebih lambat dibandingkan estimasi ekonom yang mengharapkan pertumbuhan 0.6 persen.

Lambannya pertumbuhan berimbas pada anjloknya GDP Tahunan dari 3.2 persen menjadi 2.6 persen saja. Walaupun data Neraca Perdagangan yang dirilis pada tempo nyaris bersamaan menunjukkan penurunan defisit dari 1,317 Juta menjadi 861 Juta, tetapi imbas negatif perlambatan GDP berefek bearish pada Dolar New Zealand.

Baca Juga:   Harga Minyak Naik Karena Ketegangan AS - Iran

Sementara itu, negara partner dagang dekat New Zealand, China, juga merilis kabar yang dianggap kurang sedap oleh pelaku pasar. Bank sentral China (People’s Bank of China/PBoC) meluncurkan kebijakan baru untuk mendorong pinjaman perusahaan kecil swasta pada hari Rabu. Sejumlah analis menilai kalau kebijakan itu pada dasarnya adalah pelonggaran moneter, mirip dengan pemangkasan suku bunga, yang ditujukan untuk menanggulangi perlambatan ekonomi.

Di sisi lain, Dolar AS tengah berhadapan dengan sentimen negatif pasar yang merebak setelah pengumuman kebijakan moneter Federal Reserve tadi pagi. Walaupun The Fed tetap menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin sesuai ekspektasi pasar, tetapi mereka juga mensinyalkan pemangkasan jumlah kenaikan suku bunga susulan tahun depan dari tiga kali menjadi dua kali. Pimpinan Fed, Jerome Powell, juga menekankan bahwa perubahan suku bunga tidaklah bersifat pasti.

Sejumlah analis menilai masih ada kemungkinan kalau The Fed akan menaikkan suku bunga lebih dari dua kali pada tahun 2019. Namun, sebagian lainnya memandang kalau data-data ekonomi AS dan sinyal perlambatan global bakal menghalangi Federal Reserve memenuhi proyeksi kenaikan suku bunga meski hanya dipatok sebanyak dua kali.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply