GDP Zona Euro Stabil, Tapi Jerman Nyaris Resesi

Bonus Welcome Deposit FBS

Pasangan mata uang EUR/USD terhimpit dalam area sideways yang sangat sempit di sekitar level 1.1170-an. Data preliminer yang dirilis hari ini (14/8) menunjukkan bahwa Gross Domestic Product (GDP) Zona Euro hampir tak tumbuh sama sekali pada kuartal II/2019. Pertumbuhan ekonomi di negara terbesarnya, Jerman, malah tercatat negatif karena terimbas oleh perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian brexit.

GDP Zona Euro Stabil Tapi Jerman Nyaris Resesi

Eurostat melaporkan bahwa pertumbuhan GDP Zona Euro meningkat 0.2 persen (Quarter-over-Quarter) dalam kuartal II/2019. Pencapaian ini lebih rendah dibandingkan kenaikan 0.4 persen yang tercetak pada kuartal pertama, tetapi masih sesuai dengan ekspektasi pasar. Pertumbuhan GDP tahunan pun stagnan pada laju 1.1 persen (Year-on-Year).

Sementara itu, Destatis melaporkan bahwa pertumbuhan GDP Jerman tercatat -0.1 persen (Quarter-over-Quarter), atau jatuh dari 0.9 persen menjadi 0.4 persen (Year-on-Year) dalam kuartal II/2019. Rekor itu sesuai dengan ekspektasi, tetapi membuka kemungkinan terjadinya resesi dalam tahun ini. Sebagaimana diketahui, sebuah negara disebut mengalami resesi jika pertumbuhan ekonominya tercatat negatif selama dua kuartal beruntun.

Baca Juga:   Outlook FOREX Mingguan : 24 - 28 Juli 2017

Serangkaian data ekonomi lain dari kawasan 19 negara tak kalah mengecewakan. Produksi industri mencatat pertumbuhan -1.6 persen (Month-over-Month), padahal sebelumnya diperkirakan hanya akan -1.4 persen saja. Pertumbuhan ketenagakerjaan masih terus menurun, tetapi para ekonom ragu kalau situasi ini dapat dipertahankan di tengah kemerosotan perekonomian akibat dampak perang dagang global.

“Konfirmasi hari ini mengenai kontraksi di Jerman pada kuartal kedua memantik diskusi lebih lanjut tentang kemungkinan perlambatan (ekonomi) yang lebih luas. Dengan lebih banyak risiko penurunan di maa depan, seperti brexit, gejolak politik Italia, dan ketidakpastian perang dagang, debat ini sepertinya beralasan. ECB sudah hampir sepenuhnya memastikan paket stimulus berikutnya untuk (diumumkan) pada September, tetapi pertanyaannya adalah apakah pemerintah (negara-negara anggota Zona Euro) bersedia menyediakan dukungan tambahan,” kata Bert Colijn, seorang ekonom dari ING.

Bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB) telah mempertahankan suku bunga deposit negatif serta menjalankan program pembelian obligasi dalam skala cukup besar. Namun, semua upaya itu belum mampu mendongkrak inflasi dan menggairahkan perekonomian. Sejak krisis utang Zona Euro beberapa tahun lalu, inflasi selalu berada di bawah target 2 persen, sedangkan pemulihan ekonomi tersendat-sendat.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply