Goldman Sachs: Harga Minyak Takkan Naik Jauh

Bonus Welcome Deposit FBS

Kondisi Timur Tengah kembali memanas pada akhir pekan lalu, setelah Amerika Serikat mengirim bala tentara tambahan untuk membantu sekutunya, Arab Saudi. Walaupun AS menyatakan bahwa keberadaan tentara itu bukan untuk berperang dengan Iran, tetapi harga minyak mentah sempat mencuat akibat kekhawatiran pelaku pasar.

Kenaikan harga minyak itu berumur pendek. Saat berita ditulis pada hari Selasa ini (24/9), harga minyak mentah Brent dan WTI sudah jatuh kembali. Brent terpantau melemah 0.25 persen di kisaran 64.45 USD per barel, sedangkan WTI tumbang hampir 0.5 persen di kisaran 58.13 USD per barel.

Harga Minyak Takkan Naik Jauh

Analis dari bank investasi terkemuka dunia, Goldman Sachs, menilai harga minyak mentah tak punya peluang naik lebih jauh lagi dari kisaran saat ini. Ada beberapa faktor yang memengaruhinya.

“Setelah reli rekor tertinggi dalam harga minyak setelah serangan drone terhadap infrastruktur minyak utama di Arab Saudi, kami menilai retracement harga saat ini cukup beralasan,” kata Allison Nathan dari Goldman Sachs New York, “Meskipun ada gangguan awal cukup besar dalam produksi minyak, berita terbaru dari Kerajaan (Arab Saudi) menyebutkan bahwa produksi akan pulih hingga nyaris kapasitas penuh pada akhir bulan September, dan upaya menambah stok inventori lagi akan membatasi dampak terhadap volume ekspor.

Baca Juga:   BERITA SAHAM RABU 28/08/2019 - PGN BANGUN 4.000 JARINGAN GAS RUMAH TANGGA DI SIAK

Nathan menambahkan, “Walaupun seandainya gangguan ternyata lebih lama dibandingkan proyeksi… Kami berpikir pasar minyak global memiliki sumber daya memadai untuk mengimbangi hilangnya barel-barel minyak Saudi tanpa perlu tambahan dari persediaan minyak strategis dari negara-negara OECD.”

Menurut Goldman Sachs, harga minyak mentah Brent saat ini dekat kisaran tengah 60 USD sudah cukup dekat dengan fair value-nya. Mereka memperkirakan harga acuan ini akan tetap berada di bawah 75 USD, walaupun realita dampak serangan drone di Saudi ternyata lebih buruk daripada proyeksi.

Fluktuasi harga minyak mentah juga berdampak terhadap proyeksi pertumbuhan dunia dan nilai tukar beberapa mata uang komoditas. Kenaikan harga minyak secara drastis dikenal sebagai salah satu sinyal resesi, karena mengakibatkan semakin mahalnya biaya produksi dan pembangunan di sebagian besar negara di dunia. Kenaikan harga minyak pada dasarnya hanya menguntungan negara-negara eksportir netto minyak saja, seperti Kanada dan Arab Saudi.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply