Government Shutdown, Dolar AS Melandai Jelang Natal

Bonus Welcome Deposit FBS

Indeks Dolar AS (DXY) melemah 0.18 persen ke kisaran 96.78 pada pertengahan sesi Asia hari Senin ini (24/12). Di tengah kondisi pasar sepi karena libur Natal sudah dimulai di sejumlah negara, sentimen risiko pasar dibebani oleh kasak-kusuk politik Amerika Serikat yang ditandai dengan dimulainya Government Shutdown parsial serta pengunduran diri Menteri Pertahanan pada akhir pekan lalu.

Dolar AS Melandai Jelang Natal

Government Shutdown ketiga kalinya dalam tahun 2018 di Amerika Serikat terjadi akibat silang pendapat antara Presiden AS Donald Trump dengan anggota Parlemen mengenai anggaran bagi tembok perbatasan AS-Meksiko. Trump menginginkan anggaran lebih dari USD5 Miliar untuk pembangunan tembok tersebut, tetapi partai Demokrat menolak alokasi anggaran lebih dari USD1.3 Miliar.

Pertengahan pekan, kubu Republik dan Demokrat di parlemen berhasil menyusun peraturan anggaran sementara yang mengalokasikan dana bagi lembaga-lembaga negara hingga 8 Februari. Akan tetapi, karena peraturan tersebut tak memasukkan alokasi bagi pembangunan tembok AS-Meksiko, maka Trump tak mau mengesahkannya.

Di sisi lain, anggaran bagi sejumlah lembaga federal seperti Departemen Keamanan Dalam Negeri dan Departemen Kehakiman telah kedaluwarsa per Jumat tengah malam. Artinya, sebagian kantor-kantor pemerintahan AS terpaksa ditutup hingga waktu yang belum ditentukan.

Baca Juga:   BERITA SAHAM JUMAT 23/11/2018 - BINTRACO DHARMA BELI 99% SAHAM PT MEKA ADIPRATAMA

Bahkan, situasi ini dikhawatirkan akan terus berlanjut hingga 3 Januari 2019, atau lebih lama lagi. Pasalnya, perselisihan pendapat antara Presiden AS Donald Trump dan kelompok oposisi Partai Demokrat, bisa makin menajam setelah anggota dewan baru dilantik tahun depan. Sebagaimana diketahui, partai Demokrat merebut kursi mayoritas di House of Representatives (majelis rendah pada sistem bikameral parlemen AS) pada pemilu 2018 dari dominasi partai Republik saat ini. Pada pemilu yang sama, partai Republik berhasil mempertahankan dominasi di Senat (majelis tinggi), tetapi suara yang dimiliki pun tak cukup memadai untuk menggolkan rencana anggaran yang diinginkan oleh Trump.

Sementara itu, keputusan Trump lainnya untuk menarik pasukan AS dari Syria memancing kemarahan publik dan mengundang kritik dari sejumlah pejabat penting. Menteri Pertahanan Jim Mattis menyatakan pengunduran dirinya mulai Februari karena ketidaksetujuannya pada tindakan Trump. Namun, karena murka, Trump menginstruksikan penggantian Mattis mulai awal Januari, atau dua bulan lebih cepat. Kemunduran kesekian kalinya dari pejabat teras pemerintahan Trump ini ikut menggerogoti minat risiko pasar.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply