Indeks Dolar AS Kokoh, Dow Jones Terguling Karena Masalah Ekonomi Dunia

Bonus Welcome Deposit FBS

Indeks Dolar AS (DXY) menanjak lagi sekitar 0.1 persen ke kisaran 96.64 pada pertengahan sesi Eropa hari Jumat ini (8/2). Sementara itu, indeks saham Dow Jones tergelincir sekitar 200 poin pada sesi New York akibat kekhawatiran mengenai pertumbuhan ekonomi dunia serta ketidakpastian dalam perundingan perdagangan AS-China.

Indeks Dolar AS Kokoh, Dow Jones Terguling Karena Masalah Ekonomi Dunia

Pada Kamis malam, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa ia takkan bersua dengan Presiden China Xi Jinping hingga deadline kesepakatan dagang pada 1 Maret mendatang. Padahal, hingga saat ini, masih ada banyak sekali ketidakjelasan mengenai perundingan tersebut.

Beberapa jam sebelumnya, penasehat ekonomi Gedung Putih, Larry Kudlow, mengatakan bahwa AS dan China masih jauh dari menyepakati suatu kesepakatan dagang tertentu. “Kita masih punya jarak yang cukup jauh untuk ditempuh dari sini,” kata Kudlow saat diwawancarai oleh Fox Business.

Menyusul kabar-kabar tersebut, saham-saham sejumlah perusahaan multinasional AS yang punya eksposur tinggi di luar negeri, langsung tumbang. Diantaranya, saham Caterpillar dan Deere melorot 1 persen, sementara Boeing tergelincir 0.9 persen.

Baca Juga:   BPS Laporkan Indonesia Deflasi Lagi pada September 2018

Sam Stovall, pakar strategi investasi di CFRA Research, mengatakan, “Kunci kekhawatiran (investor dan trader saat ini) adalah konflik perdagangan. Apabila negosiasi runtuh, demikian pula support jangka pendek bagi harga saham.”

Di tengah situasi ini, Dolar AS yang berperan juga sebagai salah satu aset Safe Haven, justru naik daun. Apalagi, sejumlah bank sentral terkemuka lainnya baru-baru ini memangkas proyeksi ekonomi dan inflasi, sehingga outlook suku bunga bank sentral non-AS pun menjadi lebih rendah.

Kemarin, European Commission membabat proyeksi ekonomi dan inflasi Zona Euro, sehingga bank sentral Eropa diekspektasikan akan sulit menaikkan suku bunga hingga tahun 2020. Tadi pagi, bank sentral Australia juga merevisi turun ekspektasi pertumbuhan ekonomi dan inflasinya, hingga para pakar mensinyalir kalau mereka akan melakukan dua kali pemangkasan suku bunga dalam tahun 2019.

Dibandingkan dengan berbagai bank sentral tersebut, kebijakan Federal Reserve terhitung lebih hawkish. Asalkan data-data ekonomi AS pulih kembali, bank sentral yang dikomandoi oleh Jerome Powell itu dapat melanjutkan kenaikan suku bunga bertahapnya tahun ini.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply