Indeks Dolar AS Stagnan Di Tengah Shutdown Berkepanjangan

Bonus Welcome Deposit FBS

Indeks Dolar AS (DXY) terpantau bergerak nyaris stagnan di kisaran 96.34 pada pertengahan sesi Eropa hari Selasa ini (22/1), setelah ditutup melandai tipis pada akhir sesi New York. Minimnya pergerakan Greenback dipengaruhi oleh libur bank-bank pada hari Senin, selain juga oleh absensi data ekonomi berdampak besar serta berkepanjangannya kebuntuan pembahasan anggaran pemerintah AS yang memicu US Government Shutdown paling lama sepanjang sejarah.

Indeks Dolar AS Stagnan Di Tengah Shutdown Berkepanjangan

Saat berita ditulis, Dolar AS terpantau menguat tipis versus Euro yang digempur rentetan proyeksi ekonomi buruk, dengan EUR/USD menurun 0.05 persen ke leel 1.1361. Namun, Greenback melemah terhadap Pounds yang dilonjakkan oleh penurunan tingkat pengangguran Inggris, dengan posisi GBP/USD naik 0.16 persen ke level 1.2914.

Sementara itu, Dolar AS tetap unggul telak terhadap mata yang-mata uang komoditas, karena rilis proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia oleh IMF tadi pagi telah meruntuhkan minat risiko pasar. Pasangan AUD/USD merosot nyaris 0.50 persen ke level 0.7123, NZD/USD menurun 0.30 persen ke level 0.6709, sedangkan USD/CAD menanjak 0.20 persen ke level 1.3322.

Baca Juga:   Berita Saham GIAA SENIN 19/03/2018

IMF World Economic Update yang dipublikasikan tadi pagi langsung memicu kegemparan karena memperkirakan pertumbuhan ekonomi global hanya akan mencapai 3.5 persen dalam tahun 2019 dan 3.6 persen pada tahun 2020, lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya yang dirilis pada Oktober 2018. IMF juga menampilkan proyeksi ekonomi yang memburuk bagi semua kawasan ekonomi penting dunia, mulai dari AS, China, Eropa, hingga Asia.

Perlu diketahui, harga komoditas sangat tergantung pada pertumbuhan ekonomi. Ketika pertumbuhan ekonomi meningkat, maka harga komoditas berpotensi naik karena dorongan meningginya permintaan pasar. Sebaliknya, ketika pertumbuhan ekonomi melemah, maka harga komoditas akan menghadapi ancaman penurunan karena berkurangnya permintaan, sementara pasokan pasar tetap atau justru melimpah karena tumpukan persediaan di gudang-gudang.

Sejalan dengan ini, Dolar Komoditas merupakan mata uang yang rentan runtuh manakala muncul indikasi perlambatan ekonomi di kawasan-kawasan ekonomi utama dunia. Di sisi lain, Dolar AS merupakan salah satu mata uang Safe Haven yang akan dicari pasar di tengah kekhawatiran akan gejolak pasar keuangan. Namun, kondisi politik AS yang kurang kondusif sehubungan dengan bentrok antara Presiden AS Donald Trump dan Parlemen AS terkait anggaran pembangunan tembok perbatasan AS-Meksiko, serta memudarnya prospek kenaikan suku bunga Fed tahun 2019, telah membatasi pergerakan Greenback.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply