Inflasi Dukung Kenaikan Suku Bunga Inggris, Reli Pounds Ditahan Brexit

Bonus Welcome Deposit FBS

Poundsterling hanya naik tipis 0.10 persen ke level 1.2650 terhadap Dolar AS pada pertengahan sesi Eropa hari Rabu ini (19/12), meskipun data inflasi mendukung ekspektasi pasar akan kenaikan suku bunga Bank of England (BoE). Pasalnya, BoE pernah mengungkapkan bahwa kenaikan suku bunga baru dapat dilakukan setelah realisasi rencana Inggris keluar dari Uni Eropa (Brexit).

Inflasi Dukung Kenaikan Suku Bunga Inggris

UK Office for National Statistics (ONS) mengumumkan bahwa Consumer Price Index (CPI) yang akrab disebut inflasi konsumen, mengalami kenaikan 2.3 persen (year-on-year) pada bulan November, sesuai dengan ekspektasi pasar. Ini berarti laju inflasi sepanjang tahun ini telah konsisten berada di atas target 2 persen yang ditentukan oleh BoE, dan semestinya diikuti dengan kenaikan suku bunga oleh bank sentral Inggris.

Berita tersebut kurang signifikan sebagai penggerak Pounds dalam jangka pendek, karena BoE tak memiliki banyak ruang untuk melakukan perubahan kebijakan sebelum Brexit diresmikan. Jika proposal Brexit yang diajukan Perdana Menteri Theresa May disetujui oleh Parlemen, maka BoE bisa jadi akan segera mensinyalkan kenaikan suku bunga pada tahun 2019.

Baca Juga:   Outlook Mingguan AUD / USD : 10 - 14 Agustus 2015

Dengan kata lain, skenario Brexit masih menjadi kunci pergerakan Poundsterling ke depan. Sayangnya, Brexit masih dibelit ketidakpastian, dengan adanya probabilitas “No-Deal Brexit” yang cukup besar.

PM May masih terus melakukan negosiasi dengan para pejabat Uni Eropa di Brussels dalam rangka menyiapkan kesepakatan Brexit yang lebih baik sebelum dilaksanakannya voting di Parlemen Inggris pada tanggal 14 Januari. Namun, masih belum diketahui apakah Uni Eropa akan bersedia memberikan konsesi tambahan bagi Inggris. Belum dapat dipastikan pula apakah kesepakatan yang dicapai selanjutnya bakal disetujui oleh mayoritas anggota parlemen di Westminster.

Lebih rumit lagi, perundingan Brexit makin sarat kepentingan politik. PM May harus mendapatkan konsesi yang diinginkan oleh rekan koalisinya, partai DUP, serta berbagai faksi dalam partai Konservatif yang dipimpinnya, apabila ia menginginkan kesepakatan Brexit disetujui oleh Parlemen. Risiko terburuk dari situasi dimana kesepakatan tak disetujui oleh Parlemen bisa mencakup terjadinya “No-Deal Brexit”, digelarnya voting atas mosi tak percaya babak dua atas PM May, hingga pembubaran parlemen Inggris.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply