Inflasi Euro Sesuai Ekspektasi, Target ECB Bisa Tercapai?

Bonus Welcome Deposit FBS

Mata uang Euro bergerak stabil pada perdagangan hari Senin ini (17/September), setelah Inflasi Zona Euro dilaporkan sesuai dengan estimasi awal. Pasangan EUR/USD terpantau naik 0.32 persen ke level 1.1658, sementara EUR/JPY menanjak 0.30 persen ke 130.65, dan EUR/GBP nyaris stagnan di kisaran 0.8890. Namun demikian, angka inflasi kali ini tak dianggap terlalu baik oleh analis.

Inflasi Euro Sesuai Ekspektasi, Target ECB Tercapai

Agen statistik Eropa, Eurostat, melaporkan bahwa Consumer Price Index (CPI) naik 0.2 persen dalam bulan Agustus; memenuhi ekspektasi pasar yang mengharapkan laju inflasi konsumen lebih tinggi dari -0.3 persen di bulan sebelumnya. Karenanya pula, inflasi konsumen tahunan (CPI Year-on-Year) bertahan pada level 2.0 persen, dan Core CPI kukuh pada level 1.0 persen.

Anders Svendsen, analis riset di Nordea Markets, mencatat bahwa momentum kenaikan inflasi mulai memudar. Rincian per negara di Zona Euro menunjukkan inflasi di Jerman melambat karena menurunnya biaya pendidikan. Laju inflasi Prancis yang masih tinggi, tetapi inflasi inti masih tetap rendah. Saat ini, satu-satunya yang masih berakselerasi adalah gaji. Sehingga, inflasi inti akan terakselerasi gradual dengan gaji karyawan sebagai penggerak utamanya.

Baca Juga:   Kiwi Naik Terhadap Dolar Lebih Luas

Sebelum rilis data tersebut, Benoit Coeure, salah satu anggota dewan eksekutif bank sentral Eropa (European Central Bank), mengungkapkan dalam sebuah pidato bahwa ketidakpastian seputar outlook inflasi telah memudar dan laju kenaikannya mulai stabil di level yang diharapkan oleh ECB. Namun demikian, ECB belum tentu akan memberikan klarifikasi mengenai rencana perubahan kebijakannya, karena risiko publikasi forecast kebijakan yang presisi itu dianggap melebihi keuntungannya.

Sementara itu, kelanjutan negosiasi Brexit antara Inggris dan Uni Eropa masih menjadi sorotan pasar. Menteri Keuangan Inggris, Philip Hammond, mengungkapkan dalam sebuah wawancara dengan BBC bahwa ia yakin kesepakatan bisa dicapai pada musim gugur tahun ini, tetapi Inggris tetap harus siap sedia untuk menghadapi kemungkinan apapun. Ia menilai “No-Deal Brexit” bukan tidak mungkin terjadi, meskipun kemungkinannya kecil sekali. Fundamental ekonomi kuat, tetapi jika sampai terjadi “No-Deal Brexit” maka akan merusak kemajuan yang telah dicapai selama sepuluh tahun terakhir.

Dibandingkan bahaya yang dihadapi oleh Inggris apabila terjadi “No-Deal Brexit”, risiko Uni Eropa lebih rendah. Akan tetapi, perjanjian final antara Inggris dan Uni Eropa bisa jadi krusial untuk masa depan Zona Euro dan Uni Eropa ke depan, karena menjadi preseden ketika sebuah negara keluar dari kesatuan ekonomi-politik tersebut.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply