Inflasi Konsumen AS Tumbuh Lebih Rendah Dari Ekspektasi

Bonus Welcome Deposit FBS

Indeks Dolar AS (DXY) mempertahankan penurunannya seusai rilis data inflasi konsumen pada sesi New York hari Kamis ini (11/Oktober). DXY terpantau stagnan di kisaran -0.33 persen pada level 95.15, dengan EUR/USD meningkat 0.47 persen ke 1.1571, GBP/USD naik 0.32 persen ke 1.3234, dan AUD/USD meroket 0.85 persen ke 0.7111.

Data inflasi konsumen (Consumer Price Index/CPI) Amerika Serikat bulan September 2018 bertumbuh lebih lambat dibanding perkiraan awal. Dalam laporan yang dipublikasikan malam ini, CPI (MoM) dikabarkan hanya tumbuh 0.1 persen, setelah meningkat 0.2 persen dalam bulan Agustus. Angka tersebut lebih rendah dari ekspektasi pasar yang dipatok pada 0.2 persen.

Inflasi Konsumen AS Tumbuh Lebih Rendah Dari Ekspektasi

Data inflasi inti (Core CPI) juga hanya tumbuh 0.1 persen (MoM), sama dengan bulan sebelumnya, alih-alih mencapai ekspektasi pasar yang dipasang pada 0.2 persen. Imbasnya, secara tahunan, inflasi konsumen merosot dari 2.7 persen ke 2.3 persen; sementara Core CPI stagnan pada 2.2 persen.

Turut memperburuk situasi bagi Greenback, data Initial Jobless Claims juga meleset dari ekspektasi. Klaim pengangguran mingguan meningkat dari 207k ke 214k, padahal awalnya diharapkan menurun ke 206k. Akibatnya, rerata klaim 4-mingguan (Jobless Claims 4-week Average) juga melonjak dari 207.00k menjadi 209.50k.

Baca Juga:   AUD / USD Naik Ke Tertinggi 2,5 Bulan Pada PMI China

Anders Svendsen, analis riset pasar dari Nordea Markets, mengungkapkan bahwa data kali ini merupakan kekecewaan beruntun kedua kalinya pada Core CPI yang disebabkan oleh rendahnya harga barang-barang inti, meskipun jasa masih menunjukkan momentum. Svendsen mencatat, Core CPI dalam basis triwulanan maupun semesteran sama-sama turun di bawah 2 persen secara year-on-year.

Meski demikian, pelaku pasar finansial belum sepenuhnya mencerna apa implikasi lebih jauh dari data-data ekonomi AS yang terbaru ini ke depan. Secara umum, pelaku pasar masih larut dalam sentimen risk-off yang tercipta setelah rontoknya saham-saham Wall Street pada hari Rabu kemarin. Dolar AS yang biasanya menanjak di tengah sentimen semacam ini, ikut tumbang lantaran pekatnya kekhawatiran pasar akan akibat sampingan dari kenaikan suku bunga Fed terhadap kondisi ekonomi dalam negeri AS. Apalagi, bank sentral AS (Federal Reserve) telah mengirim sinyal akan terus menaikkan suku bunga secara bertahap, selama referensi inflasi mereka (Core PCE Index) masih di atas ambang target dua persen.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply