Jelang FOMC, Kurs Rupiah Menguat Bersama Mayoritas Mata Uang Asia

Bonus Welcome Deposit FBS

Referensi nilai tukar Rupiah resmi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menguat dari Rp14,523 ke Rp14,380 dalam perdagangan hari Rabu ini (19/12), sementara kurs USD/IDR anjlok 0.43 persen ke level Rp14,433. Penguatan Rupiah kali ini sejalan dengan tren mayoritas mata uang Asia sejak awal pekan dan berhubungan dengan antisipasi pasar menjelang pengumuman suku bunga AS pasca rapat Federal Open Market Committee (FOMC).

Walau sejalan dengan tren regional, tetapi Rupiah berhasil mencetak rekor penguatan tertinggi di kalangan mata uang Asia. Won, Baht, dan Rupee cenderung stabil versus Dolar AS dalam perdagangan hari ini. Pasangan mata uang USD/CNY juga bergerak datar di kisaran 6.8970.

Kurs Rupiah Menguat Bersama Mayoritas Mata Uang Asia

Sebagaimana dikutip Kontan, Putu Agus Pransuamitra dari Monex Investindo Futures mengungkapkan bahwa apresiasi Rupiah disebabkan oleh pelemahan indeks Dolar AS yang dipicu oleh spekulasi bahwa Federal Reserve bisa jadi bersikap dovish dalam rapat FOMC besok. Selain itu, menurutnya, penurunan harga minyak mentah juga menciptakan sentimen positif bagi Rupiah, karena akan membantu meringankan beban impor dan menyempitkan selisih neraca dagang.

Baca Juga:   Yen Jepang Menguat Setelah Penjualan Ritel, Data Yang Pengangguran Baik

Sebagaimana diketahui, rapat FOMC akan berakhir pada Kamis dini hari (WIB) dan disusul dengan konferensi pers dimana pimpinan Fed, Jerome Powell, akan mengungkapkan pengumuman suku bunga serta outlook kebijakan tahun depan.

Sebelumnya, pasar mengekspektasikan akan diumumkannya kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin, disusul dengan tiga kali kenaikan suku bunga lagi pada tahun 2019. Namun, serangkaian pernyataan Fed dan mengecewakannya data-data ekonomi AS telah membuat ekspektasi tersebut menyusut. Bahkan, beberapa pihak mensinyalir kalau Fed bakal batal mengumumkan kenaikan suku bunga besok pagi.

“Posisi (pelaku pasar) menjelang rapat FOMC sangat defensif, dan itulah mengapa kita menyaksikan Dolar melemah,” ujar Michael McCarthy, pimpinan pakar strategi pasar di CMC Markets.

Menurut perangkat FedWatch yang disediakan oleh CME Group, probabilitas kenaikan suku bunga bulan ini turun ke 69 persen dari 75 persen pada pekan lalu. Perubahan ini makin membebani Dolar AS, setelah probabilitas kenaikan suku bunga tahun 2019 dipangkas pasar menjadi nyaris nol. Namun, jika Fed ternyata mempertahankan probabilitas kenaikan suku bunga sebanyak tiga kali pada tahun depan, maka Dolar AS bisa langsung berbalik reli kembali.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply