Jerman Catat Pertumbuhan Paling Lambat, Outlook Euro Makin Buruk

Afiliasi IB XM Broker

Pasangan mata uang EUR/USD menguat sekitar 0.2 persen ke kisaran 1.0860 pada perdagangan sesi Eropa hari ini (14/2). Euro juga pulih hingga 0.3 persen ke kisaran 0.8335 terhadap Poundsterling. Meski demikian, data pertumbuhan GDP Zona Euro menunjukkan bahwa outlook Single Currency sebenarnya sudah memburuk sejak akhir tahun lalu, sehingga menempatkannya dalam posisi rapuh menghadapi ancaman dampak wabah virus Corona COVID-19.

Outlook Euro Makin Buruk

Destatis melaporkan bahwa perekonomian Jerman hanya tumbuh 0.6 persen pada tahun 2019, sedangkan pertumbuhan tahunan untuk kuartal terakhir hanya naik 0.3 persen. Ini merupakan laju pertumbuhan ekonomi terburuk sejak tahun 2013, setahun setelah meletusnya krisis utang yang hampir meruntuhkan Zona Euro. Tumbangnya sektor ekspor merupakan penyebab utama perlambatan ekonomi, meskipun faktor dari dalam negeri juga tidak kondusif.

“Grafik kami menunjukkan pergeseran permintaan yang menggerakkan GDP Jerman,” kata Holger Schieding, kepala ekonom Berenberg, “Ketika pertumbuhan ekspor mulai terhambat pada akhir 2018 akibat dampak ketidakpastian perang dagang, risiko brexit, dan perlambatan generik China; ekspor netto (negatif) mengurangi pertumbuhan GDP. Sebagai respons terhadap kejutan eksternal ini, perusahaan-perusahaan membatasi inventori mereka sepanjang tahun lalu.”

Baca Juga:   Reuters: No-Deal Brexit Bisa Dorong Sterling Anjlok 9 Persen

Arus impor masuk ke Jerman meningkat dalam kuartal terakhir tahun 2019, sedangkan ekspor berkurang signifikan. Sementara itu, pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan pemerintah sama-sama melambat. Investasi bisnis untuk permesinan dan peralatan produksi lesu, sedangkan perusahaan-perusahaan memilih untuk menggelontorkan dana ke proyek konstruksi dan aset tetap lain.

Data GDP Jerman kali ini memperburuk outlook Zona Euro, karena posisinya sebagai perekonomian terbesar di kawasan. Laporan Eurostat tadi sore menunjukkan pertumbuhan GDP Zona Euro untuk kuartal IV/2019 hanya 0.1 persen, sesuai dengan ekspektasi. Namun pertumbuhan tahunan melandai dari 1.2 persen menjadi 0.9 persen, lebih buruk ketimbang ekspektasi yang dipatok pada 1.0 persen.

Lebih buruk lagi, sinyal perlambatan ekonomi Zona Euro tersebut sudah muncul sejak China belum diserang wabah virus Corona. Setelah serbuan virus Corona awal tahun ini, pertumbuhan kawasan berpotensi terseret turun makin jauh. Pasalnya, China memiliki hubungan bisnis erat dengan Jerman. Hubei, provinsi tempat asal beredarnya virus tersebut, merupakan salah satu sentra industri otomotif utama. Lockdown atas beberapa kota terbesar Hubei yang dilakukan oleh pemerintah China untuk membendung wabah, juga mengganggu rantai distribusi banyak perusahaan Eropa.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply