JPY dan CHF Menguat Akibat Instabilitas Politik AS

Bonus Welcome Deposit FBS

Mata uang Yen Jepang dan Franc Swiss menguat pada perdagangan sesi Asia hari Senin ini (24/12), setelah pemerintah AS resmi memulai Government Shutdown parsial pada pekan lalu. Walaupun bank-bank Jepang sudah libur, pasangan mata uang USD/JPY telah jatuh 0.10 persen ke kisaran 111.10, level terendahnya sejak bulan September. Sedangkan USD/CHF merosot 0.17 persen ke kisaran 0.9933.

JPY dan CHF Menguat Akibat Instabilitas Politik AS

Nuansa libur Natal mulai membayangi pasar, sehingga volume perdagangan juga menipis. Selain bank-bank Jepang yang sudah diliburkan, pasar Australia dan New Zealand juga akan ditutup lebih cepat. Bank-bank di Eropa dan Amerika Serikat pun hanya dibuka setengah hari, sehubungan dengan Christmas Eve.

Sejalan dengan itu, minat risiko pasar pun merosot dikarenakan memburuknya outlook pertumbuhan global hingga pasar saham mencatat rekor kuartalan terburuk sejak tahun 2008. Kondisi ini mendorong investor untuk menghindari risiko dengan melakukan bid atas Safe Haven seperti Yen dan Franc Swiss.

“Pasar ekuitas global telah menggerakkan sentimen di pasar mata uang. Saya tak memproyeksikan rebound signifikan apapun dalam sentimen risiko hingga saat ini,” ujar Stephen Innes dari OANDA pada Reuters. Lanjutnya lagi, “Selain tindakan investor menghindari risiko, kami memperkirakan aksi jual Dolar/Yen akan bergerak menuju 110 jika aliran repatriasi dan hedging mulai meningkat.”

Baca Juga:   BERITA SAHAM JUMAT 08/11/2019 - BNI FASILITASI PEMBAYARAN DIGITAL PLAT NOMOR PILIHAN UNTUK KENDARAAN

Hari ini, mata uang Dolar AS yang juga dianggap sebagai Safe Haven, mengalami pelemahan karena masalah politik. Indeks Dolar AS (DXY) melorot 0.20 persne ke kisaran 96.77 saat ulasan ini ditulis. Dipangkasnya proyeksi kenaikan suku bunga tahun 2019 oleh Federal Reserve, serta Gonjang-ganjing politik di Washington yang disebabkan oleh kegagalan Parlemen dan Gedung Putih dalam menyepakati rencana anggaran dan belanja negara pekan lalu, membuat pelaku pasar segan mengincar Greenback.

Government Shutdown yang dimulai pada hari Jumat tengah malam dikhawatirkan akan terus berlanjut hingga 3 Januari 2019, atau bahkan lebih lama lagi. Pasalnya, perselisihan pendapat antara Presiden AS Donald Trump dan kelompok oposisi Partai Demokrat dalam hal anggaran bagi pembangunan tembok perbatasan AS-Meksiko, bisa makin menajam setelah anggota dewan baru dilantik tahun depan.

Di sisi lain, ada ketidakpastian tambahan setelah Trump mengumumkan ia mempercepat penggantian Menteri Pertahanan Jim Mattis yang sedianya akan mengundurkan diri mulai Februari. Langkah yang agaknya diambil karena perselisihan antara Trump dan Mattis mengenai kebijakan penarikan tentara AS di Syria tersebut ikut menggerogoti minat risiko pasar.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply