Kemerosotan Inflasi Zona Euro Bisa Ancam Kebijakan ECB

Bonus Welcome Deposit FBS

Mata uang Euro merosot 0.13 persen ke level 1.1377 versus Dolar AS, setelah rilis data inflasi Zona Euro periode November yang mengecewakan. Di sisi lain, ketidakpastian mengenai Brexit kembali mendorong EUR/GBP naik 0.11 persen ke level 0.8915; sementara keresahan pasar menjelang pertemuan AS-China dalam forum G-20 mengantar EUR/JPY menurun 0.17 persen ke level 129.08.

Kemerosotan Inflasi Zona Euro

Eurostat mengumumkan bahwa inflasi konsumen (Consumer Price Index/CPI)) hanya meningkat 2.0 persen (year-on-year) dalam data preliminer bulan November 2018. Angka tersebut lebih rendah dari ekspektasi yang dipatok pada 2.1 persen, maupun dibandingkan pencapaian periode sebelumnya yang setinggi 2.2 persen.

Penurunan juga dialami oleh inflasi inti (Core CPI) yang hanya mampu mencatat pertumbuhan 1.0 persen pada periode yang sama. Padahal, pasar mengekspektasikan pertumbuhan 1.1 persen, sama dengan periode sebelumnya.

Data-data ini dinilai signifikan, karena menunjukkan bahwa inflasi tahunan Zona Euro telah kembali ke level yang sama dengan data bulan Januari 2018. Artinya, inflasi di kawasan ini boleh jadi tak mengalami pertumbuhan sama sekali sepanjang tahun ini, berlawanan dengan optimisme bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB) yang baru-baru ini menyatakan siap memangkas stimulus moneternya dengan alasan inflasi sudah nyaris mencapai ekspektasi.

Baca Juga:   USD / CAD Naik Terhadap AS, Data Ketenagakerjaan Kanada

“Data-data ini akan meningkatkan tekanan bagi ECB untuk mengirim sinyal yang lebih dovish pada bulan depan. Mereka kemungkinan akan melepas pandangan bahwa risiko dalam perekonomian telah terseimbangkan, dan tentunya akan terus mencatat bahwa inflasi dasar masih rendah,” ujar Claus Vistesen, pimpinan ekonom Zona Euro di Pantheon Macroeconomics.

Perubahan besar dalam data inflasi Zona Euro ini disinyalir dipicu oleh kemerosotan harga minyak dalam beberapa waktu belakangan. Pasalnya, kenaikan inflasi Zona Euro antara Januari-Oktober 2018 sesungguhnya dipicu oleh kenaikan harga minyak hingga nyaris 20 persen. Akibatnya, setelah harga minyak jatuh lagi sebesar lebih dari 20 persen antara Oktober-November, tekanan inflasi kembali mengendur.

Pelaku pasar akan memantau kembali rapat kebijakan moneter ECB pada bulan Desember, guna mengetahui tindak lanjut otoritas moneter tertinggi Eropa tersebut dalam merespon data ini. Sementara itu, investor dan trader bakal berfokus pada pertemuan G-20 di Buenos Aires, karena pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dimungkinkan membuahkan hasil yang berimbas luas bagi perdagangan global. Perkembangan krisis politik yang dihadapi Perdana Menteri Theresa May dalam menggolkan proposal Brexit di parlemen Inggris pun ikut jadi sorotan.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply