Kenaikan GDP Inggris Gagal Pacu Poundsterling

Bonus Welcome Deposit FBS

Pasangan mata uang GBP/USD hanya menguat tipis ke kisaran 1.3020 pada pertengahan sesi Eropa hari ini (10/5), meskipun data GDP Inggris kuartal pertama menampilkan performa sesuai ekspektasi. Sterling juga terpantau stabil pada kisaran 0.8620-an versus Euro. Upaya rebound Sterling kali ini dibebani oleh berbagai faktor geopolitik, baik dari dalam maupun luar negeri.

Kenaikan GDP Inggris Gagal Pacu Poundsterling

Dalam laporan preliminer, Badan Statistik Inggris menyampaikan bahwa laju pertumbuhan ekonomi Inggris mencapai 0.5 persen (Quarter-over-Quarter), lebih tinggi dibandingkan laju 0.2 persen yang tercapai pada kuartal terakhir tahun 2018. Hal ini mengatrol pertumbuhan GDP Tahunan dari 1.4 persen menjadi 1.8 persen (Year-on-Year). Sementara itu, produksi manufaktur dan industri Inggris mencetak rekor pertumbuhan baru pada bulan Maret, kompak dengan menurunnya defisit neraca perdagangan dalam periode yang sama.

Data-data ekonomi yang cemerlang itu nyaris tak ditanggapi oleh investor dan trader, karena kemungkinan tidak memengaruhi arah kebijakan bank sentral Inggris (Bank of England/BoE). BoE telah berulangkali menegaskan tidak akan melakukan perubahan kebijakan sebelum ada kejelasan mengenai rencana keluarnya Inggris dari Uni Eropa (brexit). Padahal, perundingan lintas partai antara pemerintah Inggris dan kelompok oposisi dari partai Labour masih terus berlanjut tanpa kabar positif apapun hingga hari ini.

Baca Juga:   Harga Emas Naik Karena Ketegangan Timur Tengah, Ekspektasi Penurunan Suku Bunga

“Dikarenakan kelumpuhan brexit, ada risiko nyata bagi investasi bisnis untuk menurun lebih jauh dalam beberapa kuartal yang akan datang. Setelah ekspansi 0.5 persen pada kuartal pertama, setelah itu, kami masih memperkirakan pertumbuhan bisa jadi melambat pada kuartal kedua dan tetap lesu sepanjang sisa tahun ini,” ujar Ruth Gregory, seorang ekonom dari Capital Economics.

Berikutnya, pelaku pasar akan memantau hasil dari beberapa perundingan yang dijadwalkan usai pada akhir pekan ini. Selain perundingan lintas partai mengenai brexit di Inggris, ada pula negosiasi perdagangan AS-China yang tengah berlangsung di Amerika Serikat.

Hasil perundingan yang positif berpotensi mendongkrak minat risiko pasar pekan depan; tetapi apabila hasilnya nihil, maka kecenderungan investor untuk menghindari aset-aset berisiko bisa bangkit kembali. Secara khusus, apabila upaya negosiasi Amerika Serikat dan China berakhir nihil, maka AS secara otomatis akan memberlakukan kenaikan tarif impor dari 10 persen menjadi 25 persen atas USD200 Miliar produk asal China; hal mana dapat memancing tindakan balasan dari Beijing.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply