Ketenagakerjaan Dorong Aussie, Tapi Kenaikan Mungkin Hanya Sementara

Bonus Welcome Deposit FBS

Dolar Australia melanjutkan reli terhadap mata uang-mata uang mayor pada hari Kamis ini (13/September), setelah penciptaan lapangan kerja dikabarkan melesat tinggi pada bulan Agustus. Sinyal pelonggaran ketegangan konflik dagang antara AS dan Tiongkok juga menopang penguatan Aussie, tetapi sejumlah pihak khawatir kalau ini hanya sementara saja.

Saat berita ditulis menjelang akhir sesi Eropa, pasangan mata uang AUD/USD telah meningkat 0.19 persen ke 0.7183, tetapi sempat menggapai level 0.7200 pada sesi Asia. Duet AUD/NZD juga melonjak 0.40 persen ke 1.0970.

Ketenagakerjaan Dorong Aussie Menguat

Australian Bureau of Statistics (ABS) melaporkan bahwa perekonomian menciptakan 44,000 lapangan pekerjaan baru dalam bulan Agustus, jauh di atas ekspektasi awal yang dipatok pada 16,500. Selain itu, laporan tersebut secara efektif memperbaiki hilangnya 4300 lapangan kerja pada bulan Juli.

Secara keseluruhan, tingkat pengangguran di Australia tetap 5.3 persen, sesuai dengan perkiraan sebelumnya. Namun, “Tak berubahnya jumlah jam kerja mengindikasikan bahwa kita tak boleh girang terlalu dini melihat kenaikan ketenagakerjaan sebesar 44,000. Meski begitu, berlanjutnya penurunan pengangguran, khususnya di Victoria, merupakan sesuatu yang kami amati dengan seksama, karena bisa mensinyalkan titik pembalikan bagi inflasi gaji,” ujar Justin Smirk, seornag ekonomi di Westpac.

Baca Juga:   Kerugian Dolar Meluas, Hits Terendah 3,5 Bulan

Pasar forex biasanya menyoroti data-data terkait ketenagakerjaan, karena dapat mempengaruhi inflasi, sedangkan tinggi-rendahnya inflasi merupakan pertimbangan utama dalam pengambilan kebijakan bank sentral. Apabila inflasi meninggi, maka itu akan memberi alasan bagi bank sentral untuk menaikkan suku bunga yang mewakili tingkat imbal hasil investasi.

Sepanjang tahun 2018, Dolar Australia telah merosot jauh karena kenaikan suku bunga bertahap yang diberlakukan AS telah memicu aksi jual atas mata uang-mata uang komoditas. Apalagi, bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) diperkirakan akan terus mempertahankan suku bunga pada level rendah 1.5 persen, meskipun bank sentral AS (Federal Reserve) bakal melanjutkan kenaikan suku bunganya. Namun, data-data terbaru ini memberikan harapan lain.

“Laporan ketenagakerjaan hari ini menunjukkan angka-angka yang solid,” ungkap Kristia Clifton, seorang ekonom di Commonwealth Bank of Australia, “Kami mengekspektasikan tren pertumbuhan GDP di atas rata-rata dalam beberapa tahun ke depan. Pertumbuhan ini semestinya menurunan tingkat pengangguran lebih lanjut. Pengetatan di pasar tenaga kerja berarti gaji dan inflasi akan naik.”

Baca Juga:   BERITA SAHAM SENIN 07/01/2019 - MANAJEMEN NKE HORMATI PUTUSAN PENGADILAN TIPIKOR ATAS KASUSNYA

Clifton dan mayoritas pelaku pasar memperkirakan RBA akan mulai menaikkan suku bunga pada akhir 2019. Sebelum itu, potensi risiko global masih menjadi faktor yang paling penting.

Dolar Australia berhasil rebound dari level terendah sejak Februari 2016 beberapa hari lalu setelah People’s Bank of China (PBoC) menginjeksi stimulus tambahan ke sistem finansialnya, dan Wall Street Journal mengabarkan pejabat-pejabat AS tengah mengupayakan negosiasi perdagangan lagi dengan Tiongkok. Namun, sentimen positif yang muncul berkat kedua kabar tersebut belum tentu dapat dipertahankan pasar. Selama belum ada resolusi jelas antara kedua negara yang bersengketa, Dolar Australia bisa terus terombang-ambing meski negeri Kanguru tak terdampak secara langsung.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply