Kondisi Domestik dan Internasional Dukung Penguatan Kurs Rupiah

Bonus Welcome Deposit FBS

Referensi nilai tukar resmi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menunjukkan penguatan drastis dari Rp14,339 menjadi Rp14,252 pada perdagangan hari pertama bulan ini (3/Desember), dengan dukungan berbagai faktor di dalam dan luar negeri. Sementara itu, kurs USD/IDR di pasar spot mata uang juga mencatat penurunan sebesar 0.56 persen ke level Rp14,220.

Kondisi Domestik dan Internasional Dukung Penguatan Kurs Rupiah

Sebenarnya, penguatan kurs Rupiah telah dimulai sejak pertengahan pekan lalu, setelah merebak kabar bahwa Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping akan bertemu di ajang G-20 guna mendiskusikan penyelesaian masalah perdagangan antara keduanya yang telah menyeret negara-negara lain. Reli penguatan Rupiah makin kokoh, setelah kedua negara tersebut menyatakan “gencatan senjata” seusai pertemuan terkait.

Trump setuju menunda kenaikan tarif impor atas USD200 Miliar produk China yang sedianya akan diberlakukan pada 1 Januari mendatang. Di sisi lain, Xi Jinping berjanji akan meningkatkan pembelian China atas produk-produk Amerika Serikat. Selain itu, kedua negara akan kembali menggelar negosiasi baru dengan target mencapai kesepakatan dalam tempo 90 hari ke depan.

Baca Juga:   Sterling Melompat Setelah Penjualan Ritel Inggris, Menit BoE

Meskipun sejumlah pihak ragu kalau perundingan baru tersebut bakal membuahkan hasil positif, tetapi untuk sementara ini minat pasar pada aset-aset berisiko mengalami peningkatan sebagai imbas dari persetujuan Trump dan Xi. Salah satu mata uang yang diuntungkan oleh situasi ini adalah Rupiah sebagai salah satu mata uang negara berkembang berisiko paling tinggi.

Di sisi lain, laporan inflasi dalam negeri juga menunjukkan sinyal positif dengan mengungguli ekspektasi. Tadi siang, Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa inflasi mengalami kenaikan 0.27 persen (Month-over-Month) dalam bulan November; lebih rendah ketimbang kenaikan 0.28 persen pada bulan Oktober, tetapi lebih tinggi dibandingkan ekspektasi awal yang dipatok pada 0.19 persen.

Kenaikan inflasi bulanan tersebut menunjang peningkatan inflasi tahunan dari 3.16 persen menjadi 3.23 persen, padahal sebelumnya diperkirakan bakal menurun ke 3.15 persen. Apalagi, inflasi inti (Core Inflation) juga meningkat dari 2.94 persen menjadi 3.03 persen.

Peningkatan inflasi umumnya dipandang negatif oleh masyarakat luas karena mengindikasikan kenaikan harga-harga barang dan jasa. Akan tetapi, ini merupakan kabar positif bagi pelaku pasar finansial karena membuka kemungkinan kenaikan kinerja saham-saham di bursa serta dapat mendorong bank sentral untuk menaikkan suku bunga.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply