Kurs Rupiah Anjlok Akibat Membengkaknya Defisit CAD

Bonus Welcome Deposit FBS

Setelah Bank Indonesia merilis laporan Neraca Pembayaran Indonesia dan Current Account pada hari Jumat lalu, kurs Rupiah cenderung stabil. Namun, awal pekan ini, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS merosot drastis hingga menempatkan mata uang bersimbol Garuda ini sebagai current dengan posisi terburuk di Asia.

Dalam perdagangan hari Senin (11/2), kurs USD/IDR telah meroket sekitar 0.61 persen ke level Rp14,035. Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 0.41 persen ke level 6,495.00, level terendahnya sejak tanggal 6 Februari 2018.

Kurs Rupiah Anjlok Akibat Membengkaknya Defisit Current Account

Pada hari Jumat, Bank Indonesia melaporkan bahwa Neraca Pembayaran mengalami surplus sebesar USD5.42 Miliar pada kuartal IV/2018. Namun, Neraca Pembayaran 2018 secara keseluruhan tetap defisit USD7.13 Miliar, karena digerogoti oleh rekor pada tiga kuartal sebelumnya yang amat mengecewakan.

Laporan Neraca Transaksi Berjalan (Current Account) yang dilaporkan dalam kesempatan tersebut juga mencatat peningkatan cukup besar. Persentase defisit Current Account terhadap GDP (Current Account Deficit/CAD) membengkak dari 3.37 persen menjadi 3.57 persen pada penghujung tahun 2018.

Baca Juga:   BERITA SAHAM SENIN 11/02/2019 - MANDIRI FINANCE TAK AGRESIF SALURKAN PEMBIAYAAN TAHUN INI

Rangkaian data-data ekonomi vital ini menempatkan Indonesia dalam kondisi ekonomi cukup rawan saat memasuki pergantian tahun. Pasalnya, pembengkakan Current Account seringkali dipandang negatif oleh investor, karena mengindikasikan bahwa arus uang ke luar negeri lebih besar dibandingkan arus uang yang masuk.

Lebih rentan lagi, defisit Current Account bisa meningkat lagi pada laporan periode berikutnya, jika impor tetap tinggi. Namun, berbagai indikasi yang ada saat ini belum mensinyalkan penurunan impor.

Penurunan harga BBM oleh Pertamina kemarin berpotensi mendongkrak permintaan bahan bakar minyak oleh konsumen yang bisa mengakibatkan peningkatan impor minyak. Data penjualan eceran bulan Desember yang dirilis hari ini juga masih menampilkan pertumbuhan positif aktivitas belanja masyarakat sebesar 7.7 persen (versus 3.4 persen pada periode sebelumnya).

Tak mengherankan apabila hampir semua sektor saham di Bursa Efek Indonesia memerah hari ini. Kenaikan hanya dialami oleh sektor Perdagangan (+1.11 persen) dan sektor Infrastruktur (+0.69 persen). Sebanyak tujuh sektor lainnya merosot cukup besar, termasuk sektor Finance, Properti, Industri Dasar, Aneka Industri, Manufaktur, Pertambangan, Barang Konsumsi, dan Agri.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply