Kurs Rupiah Berkonsolidasi Pada Kisaran 14200 Terhadap Dolar AS

Bonus Welcome Deposit FBS

Referensi resmi nilai tukar Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) melemah tipis dari Rp14,251 menjadi Rp14,269, tetapi kurs USD/IDR stagnan pada level Rp14,260 pada perdagangan hari Rabu ini (13/3). Pelemahan juga dialami oleh mayoritas mata uang Asia hari ini, dengan pengecualian Peso Filipina, Rupee India, dan Yen Jepang. Meski demikian, terdapat sentimen positif dari data penjualan sepeda motor Indonesia yang turut membantu mendongkrak indeks harga saham gabungan (IHSG) sebesar 0.37 persen ke level 6,377.58.

Kurs Rupiah Berkonsolidasi Pada Kisaran 14200

Tadi siang, GAIKINDO melaporkan bahwa penjualan sepeda motor mengalami pertumbuhan sebesar 21.00 persen (Year-on-Year) pada bulan Februari 2019, lebih tinggi dari pertumbuhan 17.90 persen yang tercapai pada periode sebelumnya. Kabar ini merupakan laporan ekonomi positif kedua setelah Bank Indonesia melaporkan bahwa data penjualan ritel meningkat 7.2 persen (Year-on-Year) pada bulan Januari. Di tengah berbagai kabar mengenai penurunan minat belanja masyarakat dan ditutupnya sejumlah gerai pengecer besar, laporan ini patut menjadi bahan pertimbangan tersendiri.

Terlepas dari itu, kurs Rupiah masih sangat dipengaruhi oleh berbagai isu eksternal terkini yang cenderung negatif bagi mata uang negara berkembang. Diantaranya terkait rencana keluarnya Inggris dari Uni Eropa serta negosiasi perdagangan antara Amerika Serikat dan China.

Baca Juga:   EUR / USD Tetap Rendah Pada Perkiraan IMF, Data Jerman

Minat risiko pasar merosot setelah kegagalan upaya PM Theresa May untuk meratifikasi rencana kesepakatan brexit pada hari Selasa. Inggris masih akan mengadakan beberapa event penting sehubungan dengan rencananya untuk keluar dari Uni Eropa, sehingga investor dan trader cenderung main aman untuk mengantisipasi berbagai skenario yang mungkin terjadi.

Negosiasi perdagangan AS-China yang jadi sorotan banyak pihak, juga belum menghasilkan kemajuan signifikan walaupun telah berlangsung selama hampir tiga bulan. Sebaliknya, Perwakilan Dagang AS, Robert Lighthizer, justru mengutarakan sebuah pernyataan mengejutkan dalam acara dengar pendapat dengan parlemen AS pada hari Selasa. Menurutnya, Amerika Serikat bisa menaikkan kembali bea impor terhadap barang-barang asal China. Pasalnya, perundingan kedua negara berlangsung alot, dan agaknya China tak mau memberikan konsesi tambahan selain pengurangan defisit dagang dan penurunan bea impor atas produk AS.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply