Kurs Rupiah dan IHSG Menguat Karena Optimisme Negosiasi AS-China

Bonus Welcome Deposit FBS

Referensi nilai tukar resmi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menguat pesat dari Rp14,119 menjadi Rp14,055 pada perdagangan hari Rabu ini (20/2), sementara kurs USD/IDR dalam perdagangan pasar spot mata uang merosot 0.44 persen ke level 14,035. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun menguat 0.28 persen ke level 6512.78 di tengah tingginya antisipasi pasar menjelang dilanjutkannya negosiasi perdagangan antara Amerika Serikat dan China dalam pekan ini.

Kurs Rupiah dan IHSG Menguat Karena Optimisme Negosiasi AS-China

Dalam perdagangan hari Rabu ini, sebanyak tujuh dari sembilan sektor saham mengalami penguatan kembali. Penurunan hanya dialami oleh dua sektor saham, yaitu sektor Pertanian (Agri) sebesar -0.69 persen dan sektor Infrastruktur sebesar -0.8 persen. Tujuh sektor saham lainnya yang mengalami kenaikan adalah sektor Industri Dasar (+1.61 persen), sektor Perdagangan (+0.33 persen), sektor Properti (+1.02 persen), sektor Barang Konsumsi (+0.15 persen), sektor Pertambangan (+0.64 persen), sektor Aneka Industri (+0.01 persen), dan sektor Keuangan (+0.24 persen).

Beberapa faktor yang mempengaruhi penguatan kurs Rupiah dan IHSG hari ini adalah antisipasi pasar menjelang rilis notulen rapat bank sentral AS (FOMC) dan pengumuman suku bunga Bank Indonesia esok hari, serta optimisme akan tercapainya kesepakatan dagang antara AS dan China sebelum deadline 1 Maret mendatang. Meski perundingan selama lebih dari dua bulan terakhir antara AS dan China belum menunjukkan perkembangan signifikan, tetapi Presiden AS Donald Trump telah berulangkali melontarkan komentar positif, sehingga membubungkan harapan pasar.

Baca Juga:   Outlook Mingguan Emas / Perak / Tembaga Berjangka : 31 Juli - 4 Agustus 2017

Di sisi lain, ekspektasi pasar terhadap notulen rapat FOMC yang akan dipublikasikan pada Kamis dini hari, justru menekan Dolar AS. Pasalnya, seorang pajabat bank sentral AS kemarin menyinggung tentang kemungkinan akan dihentikannya program pengurangan neraca Federal Reserve. Padahal, apabila itu dilakukan maka akan meredam efek kenaikan suku bunga AS mendatang.

Ditengah berbagai ketidakpastian terkait kebijakan moneter AS, Bank Indonesia besok diekspektasikan akan mempertahankan suku bunga. Apabila hal itu terealisasikan, maka dapat mendukung penguatan kurs Rupiah, karena berbagai bank sentral mayor masih cenderung melonggarkan kebijakan moneter mereka. Meski demikian, jika ternyata notulen FOMC menunjukkan posisi kebijakan bank sentral AS yang lebih hawkish, maka hal itu dapat mendorong penguatan Dolar AS dan melemahkan Rupiah kembali.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply