Kurs Rupiah Di Posisi Paling Lemah Sejak Oktober 2015

Bonus Welcome Deposit FBS

Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS diperdagangkan pada angka Rp14,619 pada hari Kamis (16/Agustus) menurut Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dihimpun oleh Bank Indonesia. Meskipun menguat sedikit dibanding penutupan hari Rabu (16/Agustus), tetapi masih berada dalam kisaran posisi paling lemah sejak bulan Oktober 2015.

Kurs Rupiah Di Posisi Paling Lemah Sejak Oktober 2015

Sejumlah sentimen negatif membayangi outlook kurs Rupiah dari dalam dan luar negeri. Dari luar negeri, sentimen negatif yang dipicu oleh krisis Turki belum pudar dan masih membebani mata uang-mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah. Sementara dari dalam negeri, data-data ekonomi terbaru dinilai mengecewakan.

Minggu lalu, Bank Indonesia (BI) melaporkan defisit transaksi berjalan (Current Account) kuartal II/2018 melonjak ke USD8 Miliar dari USD5.7 Miliar, atau naik hingga mencapai 3% dibanding total Gross Domestic Product (GDP). Data defisit Neraca Perdagangan bulan Juli yang dihimpun oleh Badan Pusat Statistik (BPS) juga membengkak menjadi USD2.03 Miliar pada bulan Juli, lebih dari dua kali lipat estimasi awal yang dipatok pada USD0.6 Miliar. Ini adalah rekor defisit perdagangan tertinggi sejak bulan Juli 2013.

Baca Juga:   NZD / USD Turun 3 Minggu Terendah Pada Data Ketenagakerjaan N.Z.

Dalam rangka memangkas defisit transaksi berjalan dan neraca perdagangan serta menyangga kurs Rupiah, Pemerintah berencana mengurangi impor bahan mentah dan barang modal dengan menunda sejumlah proyek infrastruktur. Namun, solusi ini menghadirkan dilema berbeda, karena penundaan proyek dapat mengakibatkan penurunan lebih lanjut dalam arus investasi masuk ke Indonesia.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) telah melaporkan terjadinya penurunan Foreign Direct Investment (FDI) sepanjang kuartal II/2018 sebesar 12.9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, ke angka total hanya Rp95.7 Triliun. Bahkan, BKPM menyatakan bahwa target FDI tahun 2018 sebesar Rp477.4 Triliun bisa jadi gagal tercapai.

“Di tengah ketidakpastian, biasanya investasi melambat. Sekarang investor sedang wait-and-see,” ujar pimpinan BKPM, Thomas Lembong, sebagaimana dikutip oleh Jakarta Globe. Lanjutnya, “Sebelum kita bisa menstabilkan atau meyakinkan pasar dan investor bahwa Rupiah sudah stabil, (maka) investor akan cenderung menunggu atau menunda (investasi mereka). Stabilitas Rupiah itu penting bagi sentimen investasi.”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply