Kurs Rupiah Kembali Terperosok Akibat Perkembangan Global

Bonus Welcome Deposit FBS

Referensi nilai tukar resmi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) melemah dari Rp13,963 menjadi Rp13,973 dalam perdagangan hari ini (23/7). Sementara itu, kurs USD/IDR di pasar spot mata uang terpantau meningkat sekitar 0.3 persen ke kisaran Rp13,980. Pelemahan ini tak lepas dari pengaruh beragam sentimen dari luar negeri, sementara dukungan data ekonomi domestik cenderung minim.

Kurs Rupiah Kembali Terperosok Akibat Perkembangan Global

Dari dalam negeri, kurs Rupiah terbebani oleh data Neraca Perdagangan RI untuk bulan Juni 2019 yang dirilis pekan lalu. Laporan tersebut menunjukkan posisi surplus yang kian menipis, sementara ekspor merosot dan impor membengkak. Situasi ini jelas tak akan menunjang perbaikan dalam posisi neraca transaksi berjalan kuartal II/2019.

Beberapa hari kemudian, kurs Rupiah sempat menguat cukup pesat seusai pengumuman pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia. Namun, pemangkasan sebesar 25 basis poin tersebut selaras dengan ekspektasi analis, dan pelaku pasar malah mengharapkan akan dilakukannya pemangkasan suku bunga tambahan. Penguatan pasca pengumuman suku bunga BI justru menjadi pemicu terjadinya aksi profit-taking dalam perdagangan pekan ini.

Baca Juga:   NZD / USD Lebih Tinggi, Keuntungan Terlihat Terbatas

Dari luar negeri, kurs Rupiah tertekan akibat memburuknya sentimen pasar sejak hari Senin. Mencuatnya konflik Iran-Inggris dan Iran-AS di Selat Hormuz telah mendorong investor menghindari aset-aset berisiko lebih tinggi, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah. Antisipasi menjelang rapat kebijakan sejumlah bank sentral utama juga mendorong pelaku pasar untuk cari aman.

Dalam situasi ini, Dolar AS menjadi salah satu aset pilihan pasar. Apalagi, parlemen Amerika Serikat baru saja mencapai kesepakatan baru mengenai batas atas utang dalam anggaran negara, sehingga memusnahkan kemungkinan terjadinya US Government Shutdown hingga dua tahun ke depan. Tak ayal, kurs Rupiah melemah kembali versus Dolar AS.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mencatat kinerja lebih buruk, dengan menorehkan penurunan 0.46 persen di akhir sesi siang. Hanya dua dari sembilan sektor saham yang berhasil mencatat kenaikan, yaitu sektor barang konsumsi dan sektor aneka industri. Ketujuh sektor lainnya melemah, terutama sektor infrastktur, sektor keuangan, dan sektor industri dasar.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply