Kurs Rupiah Loyo Lagi, Defisit Current Account Meningkat

Bonus Welcome Deposit FBS

Referensi resmi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menguat dari Rp14,651 ke Rp14,632 dalam perdagangan hari Jumat ini (9/November). Akan tetapi, kurs USD/IDR di pasar spot mata uang melonjak 0.18 persen dari kisaran terendah sejak bulan Agustus pada Rp14,535 ke level Rp 14,675 pada penutupan akhir pekan, lantaran perubahan sentimen global.

Kurs Rupiah Anjlok Lagi

Pada awal pekan ini, kurs Rupiah sempat menguat pesat lantaran dorongan dari pasar global serta pengaruh rilis aturan seputar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) oleh Bank Indonesia. Dari sisi eksternal, gejolak yang timbul di AS akibat kemenangan partai Demokrat menguasai House of Representatives dalam Midterm Elections telah menggoyahkan dominasi Dolar AS, sehingga mata uang-mata uang negara berkembang (termasuk Rupiah) mendapat peluang rebound. Dari sisi internal, DNDF menjadi instrumen hedging baru bagi perbankan untuk melindungi diri dari efek fluktuasi nilai tukar mata uang.

Terlepas dari itu, pelaku pasar global kini mulai mengacuhkan efek kemenangan partai Demokrat, setelah bank sentral AS merilis pernyataan hawkish pasca rapat kebijakan dini hari tadi. Hal ini membuat para pakar makin optimis kalau Fed melanjutkan rencana kenaikan suku bunga pada bulan depan, ditambah tiga kali kenaikan lagi pada tahun 2019.

Baca Juga:   Tepi USD / CAD Hampir Tertinggi 6 Tahun Di Awal Perdagangan

Bagi mata uang negara berkembang, kabar tersebut mensinyalkan kembalinya pelemahan nilai tukar, karena aliran dana Hot Money akan terus disedot oleh pasar AS. Dalam pada itu, defisit Current Account juga bisa makin parah.

Berdasarkan laporan yang dirilis oleh ESRI hari ini, Neraca Pembayaran Indonesia mengalami pelebaran defisit dari 4.3 Milyar Euro menjadi 4.4 Milyar Euro dalam periode kuartal III/2018. Sementara itu, persentase defisit Current Account terhadap GDP juga melonjak dari 3.02 persen menjadi 3.37 persen dalam periode yang sama.

Tekanan atas pasar modal Indonesia pun makin berat. Pada perdagangan hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menurun 1.72 persen ke level 5,874.15. Kesembilan sektor saham di Bursa Efek Indonesia kompak memerah, dengan penurunan terbesar diderita oleh sektor Barang Konsumsi (-5.81 persen), Properti (-1.51 persen), dan Finance (-1.31 persen). Foreign Net Sell mencapai Rp48.4 Triliun.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply