Kurs Rupiah Melonjak Kembali Pasca Rilis Neraca Perdagangan

Bonus Welcome Deposit FBS

Referensi nilai tukar resmi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) melonjak dari Rp14,052 menjadi Rp14,084 pada perdagangan hari Selasa ini (15/1), sementara kurs USD/IDR di pasar spot mata uang merosot 0.25 persen ke level Rp14,085. Penguatan kurs Rupiah ini sehubungan dengan pelemahan Dolar AS akibat pudarnya ekspektasi kenaikan suku bunga dalam tahun 2019, serta penyempitan defisit neraca perdagangan Indonesia.

Kurs Rupiah Melonjak Kembali Pasca Rilis Neraca Perdagangan

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia mengalami penurunan defisit dari 2.05 Miliar menjadi 1.10 Miliar saja pada bulan Desember. Namun, kabar baik ini diiringi dengan memburuknya pertumbuhan ekspor.

Pertumbuhan ekspor Indonesia dalam periode yang sama anjlok dari -3.28 persen menjadi -4.62 persen (Year-on-Year). Syukurnya, laju impor juga melambat. Pertumbuhan impor tercatat 1.16 persen saja, jauh di bawah kenaikan 11.68 persen yang tercatat pada periode sebelumnya.

Pergerakan kurs Rupiah selanjutnya kemungkinan akan dipengaruhi oleh hasil rapat dewan gubernur Bank Indonesia yang dijadwalkan akan diadakan pada hari Kamis mendatang. Hasil rapat biasanya menunjukkan pandangan bank sentral mengenai kondisi ekonomi terkini, laju inflasi, serta perubahan kebijakan moneter.

Baca Juga:   BERITA SAHAM RABU 02/01/2019 - HENTIKAN PENJUALAN FLAT BAR, ANAK USAHA INDS FOKUS KE ALAT PERTANIAN

Hasil polling Reuters terbaru memproyeksikan BI akan mempertahankan suku bunga 7-Day Reverse Repo Rate (7DRRR) tetap pada level 6.00 persen dalam kesempatan tersebut. Salah satu penyebabnya, karena apresiasi kurs Rupiah saat ini memberikan sedikit alasan bagi BI untuk menaikkan suku bunga.

Sebelumnya, BI telah menaikkan suku bunga sebanyak enam kali antara Mei-November 2018 sebesar total 175 basis poin, dalam rangka menanggulangi pelarian dana-dana ke luar negeri (Capital Outflow) serta mengerem kemerosotan kurs Rupiah. Namun, perbaikan minat risiko pasar yang didukung oleh perkiraan kalau bank sentral AS akan berhenti menaikkan suku bunga tahun ini serta bakal tercapainya penyelesaian perang dagang AS-China, telah menunjang penguatan kurs Rupiah belakangan ini.

“Alasan utama mengapa kami tak mengeksepktasikan kenaikan suku bunga bulan ini adalah perbaikan performa mata uang (Rupiah), yang telah rebound sekitar 7.9 persen terhadap Dolar AS, setelah mencapai level terendahnya dalam 20 tahun terakhir pada bulan Oktober (2018),” tulis Capital Economics dalam sebuah catatan yang dikutip oleh Reuters.

Baca Juga:   Dolar Kembali Menguat Setelah Pemerintah AS Melakukan Shutdown, Memberikan Imbal Hasil Yang Lebih Tinggi

Sepanjang tahun 2019, kurs Rupiah mengalami penguatan sekitar 2 persen terhadap Dolar AS. Hal ini memosisikan Rupiah sebagai mata uang negara berkembang terbaik di kawasan Asia.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply