Kurs Rupiah Menguat Ikuti Tren Mata Uang Negara Berkembang Lainnya

Bonus Welcome Deposit FBS

Pasangan mata uang USD/IDR merosot 0.49 persen ke level Rp15,125 pada perdagangan hari Kamis ini (1/November), karena kurs Rupiah turut reli menunggangi kembalinya minat risiko di pasar finansial global. Referensi nilai tukar resmi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menguat pesat dari Rp15,227 ke Rp15,195, sejalan dengan depresiasi Dolar AS dan kebangkitan mata uang negara-negara berkembang lainnya.

Kurs Rupiah Menguat Ikuti Tren Mata Uang Negara Berkembang Lainnya

Minat risiko di pasar finansial global mengalami rebound hari ini, setelah jajaran kepemimpinan China dikabarkan tengah merancang stimulus fiskal tambahan untuk menanggulangi data-data ekonomi yang mengecewakan dalam beberapa waktu belakangan. Pernyataan yang dirilis dari sebuah rapat Politburo yang dihadiri pula oleh Presiden Xi Jinping menyebutkan bahwa situasi ekonomi negara mengalami perubahan, tekanan meningkat, dan pemerintah perlu mengambil langkah tepat untuk mengatasinya.

Sehari sebelumnya, laporan Purchasing Managers Index (PMI) sektor manufaktur dan non-manufaktur menampilkan profil terburuk dalam dua tahun terakhir. Penyebabnya, permintaan atas produk-produk China mengalami penurunan drastis selama bulan Oktober lantaran tingginya tarif pada barang-barang impor asal China yang masuk ke AS. Hal ini diperkirakan merupakan salah satu faktor yang memicu kebijakan terbaru China.

Baca Juga:   Dolar Terus Jatuh Saat Pound Dan Euro Mencapai Level Tertinggi

Berita mengenai stimulus fiskal tambahan China ini menggemparkan pasar finansial, hingga mendorong Dolar AS dan aset-aset Safe Haven melemah. Sebaliknya, mata uang berisiko lebih tinggi seperti Euro, Pounds, dolar-dolar komoditas, dan mata uang negara berkembang justru panen. EUR/USD melonjak 0.80 persen ke level 1.1400, GBP/USD meroket 1.25 persen ke level 1.2925, AUD/USD melesat 1.53 persen ke 0.7180, NZD/USD terbang 1.70 persen ke 0.6628, sementara USD/CAD terperosok 0.52 persen ke level 1.3088. Rubel Rusia, Lira Turki, dan Rand Afrika Selatan juga masing-masing menguat hingga 1.7 persen.

Dari dalam negeri Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa inflasi kembali menanjak. Data inflasi bulan Oktober menunjukkan kenaikan 0.28 persen, setelah sempat terjadi deflasi 0.18 persen pada periode September. Laporan tersebut berhasil mendongkrak inflasi tahunan ke level 3.16 persen; lebih tinggi dibandingkan 2.88 persen pada periode sebelumnya, maupun ekspektasi pasar yang dipatok pada 3.03 persen.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami kenaikan 4.27 persen ke level 5,835.92 pada penutupan sesi perdagangan kedua hari ini. Sebanyak lima dari sembilan sektor saham mengalami kenaikan, yakni sektor Perdagangan, Pertambangan, Aneka Industri, Finance, dan Infrastruktur.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply