Kurs Rupiah Menguat Kembali Ke 14,500-an Berkat Thanksgiving

Bonus Welcome Deposit FBS

Referensi nilai tukar resmi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menguat dari Rp14,592 ke Rp14,552 pada perdagangan hari Jumat ini (23/November), sementara pasar finansial Amerika Serikat tengah ditutup dalam rangka libur Thanksgiving. Kurs USD/IDR di pasar spot mata uang juga tercatat menurun 0.27 persen ke level Rp14,535, kembali ke level Support yang tercipta pada 9 November lalu.

Kurs Rupiah Menguat Kembali

Tak ada data ekonomi berdampak tinggi yang dirilis di dalam negeri dalam pekan ini. Namun, keraguan pasar mengenai keberlanjutan prospek kenaikan suku bunga AS dalam tahun 2019 mendatang, telah mendorong aliran dana kembali (capital inflow) ke pasar saham dan obligasi domestik.

Pada grafik harga USD/IDR di pasar spot, nampak bahwa penguatan kurs Rupiah pekan ini bermula pada tanggal 21 November, sehari setelah para pejabat bank sentral AS (Federal Reserve) mengungkapkan peringatan mereka mengenai potensi dampak perlambatan ekonomi global terhadap kondisi ekonomi AS. Laju penguatan Rupiah makin tajam, setelah sejumlah data ekonomi penting AS dilaporkan meleset dari ekspektasi, sementara krisis politik di Eropa mereda.

Baca Juga:   Survei Dasar Laut Untuk Cadangan Minyak Dan Gas Bumi

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menjadi barometer kekuatan pasar modal Indonesia juga menanjak 0.26 persen, dan berhasil mencapai 6,006.20 kembali pada penutupan perdagangan sesi dua, setelah kemarin meningkat ke 5,984.64. Hal ini mengindikasikan positifnya sentimen pasar, tetapi bukan berarti risiko sudah sirna.

Diantara sembilan sektor saham di Bursa Efek Indonesia, sebanyak empat sektor mengalami penurunan. Sektor “loser” ini antara lain Properti (-0.61 persen), Finance (-0.57 persen), Aneka Industri (-0.48 persen), dan Perdagangan (-0.22 persen). Sementara itu, sektor berkinerja baik antara lain sektor Industri Dasar (1.62 persen), Barang Konsumsi (1.35 persen), Agri (1.6 persen), Manufaktur (1.1 persen), Infrastruktur (0.51 persen), dan Tambang (0.48 persen).

Malam ini, setelah pasar Asia ditutup, muncul pula gejolak di benua Eropa. Serangkaian data ekonomi Zona Euro mensinyalkan hilangnya momentum pertumbuhan; sedangkan draft awal kesepakatan Brexit dikhawatirkan akan dijegal oleh Parlemen Inggris, meskipun seandainya sudah diteken resmi oleh para pejabat Uni Eropa. Peningkatan risiko global seperti ini biasanya berdampak negatif bagi mata uang-mata uang negara berkembang seperti Indonesia. Jadi, apabila tak ada perubahan positif mengenai kedua isu tersebut pada akhir pekan ini, maka kondisi kurs Rupiah dan IHSG pada Senin depan menjadi rentan.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply