Kurs Rupiah Menguat Pesat, Dekati 14,000 Lagi

Bonus Welcome Deposit FBS

Referensi resmi nilai tukar Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menguat dari Rp14,163 ke Rp14,038 pada perdagangan hari Senin ini (28/1), sementara kurs USD/IDR merosot 0.65 persen ke level Rp14,068 pada transaksi spot pasar mata uang. Sejumlah dinamika ekonomi terkini mendukung penguatan kurs Rupiah hingga kembali mendekati kisaran Rp14,000-an yang sempat tercapai pada awal bulan ini.

Kurs Rupiah Menguat Pesat

Sebagaimana dikutip oleh CNN Indonesia hari ini, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan, terdapat empat faktor yang mendorong penguatan kurs Rupiah terhadap Dolar AS dalam beberapa waktu belakangan ini. Pertama, mengalir masuknya modal asing (capital inflow). Kedua, upaya pemerintah mendorong ekspor. Ketiga, perubahan mekanisme pasar valas terkini dengan diadakannya Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di samping perdagangan spot dan swap. Terakhir, perbaikan ketahanan eksternal Indonesia.

Menurut Bank Indonesia, aliran modal masuk Indonesia sejak awal tahun hingga 24 Januari lalu telah mencapai Rp19.2 Triliun, khususnya menuju ke bursa saham. Hal ini mensinyalkan tetap kokohnya keyakinan investor asing. Upaya pemerintah untuk meningkatkan efisiensi logistik guna mendongkrak ekspor juga berimbas positif pada keyakinan investor.

Baca Juga:   GBP / USD Hampir Tidak Berubah, Dekat Tertinggi 2 Bulan

Otoritas moneter Indonesia tersebut juga menyampaikan perbaikan sejumlah perbaikan data, seperti kenaikan surplus neraca modal, neraca pembayaran, dan penurunan defisit transaksi berjalan atau Current Account Deficit (CAD). Bank Indonesia memperkirakan surplus neraca pembayaran kuartal I/2019 akan naik ke sekitar 4-5 Miliar Dolar AS, seiring dengan proyeksi penurunan CAD.

Meski demikian, kondisi bursa saham hari ini masih lesu. Saat berita ditulis menjelang penutupan perdagangan reguler, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah 0.37 persen ke level 6,458.71, setelah turun ke level 6,442.98 pada perdagangan hari Jumat lalu. Pasalnya, publikasi data ekonomi China terbaru menumbuhkan kekhawatiran pelaku pasar.

Sebagaimana dikutip oleh Liputan6.com, Nafan Aji dari PT Binaarta Sekuritas mengungkapkan bahwa penguatan IHSG pada awal sesi didorong oleh sentimen positif karena diakhirinya US Government Shutdown. Akan tetapi, “Data makro ekonomi China yaitu data industrial sekitar 10.3 persen. Ini membuat pelaku pasar khawatir terhadap kinerja fundamental ekonomi di China terutama manufaktur,” katanya.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply