Kurs Rupiah Menguat Setelah AS Tunda Kenaikan Tarif China

Bonus Welcome Deposit FBS

Kurs Rupiah ikut mendulang cuan dari keputusan Amerika Serikat untuk menunda pemberlakukan kenaikan tarif untuk impor barang senilai USD300 Miliar dari China kemarin. Referensi nilai tukar resmi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menanjak dari Rp14,283 menjadi Rp14,234 dalam perdagangan hari ini (14/8). Kurs USD/IDR di pasar spot mata uang juga menurun hingga nyaris 0.6 persen ke kisaran Rp14,230.

Kurs Rupiah Menguat Setelah AS Tunda Kenaikan Tarif China

Pada hari Selasa, Presiden AS Donald Trump mengumumkan akan menunda pemberlakuan bea masuk baru bagi importasi produk China yang sedianya akan dieksekusi mulai 1 September. Dengan alasan untuk menghindari dampak tarif tambahan bagi konsumen menjelang musim liburan, maka ia memundurkan tanggal pemberlakukan hingga 15 Desember.

Perwakilan Dagang AS, Robert Lighthizer, juga menyampaikan bahwa sejumlah kategori barang asal China akan dikeluarkan dari daftar barang yang bakal dikenai kenaikan tarif impor. Pihaknya pun kembali melanjutkan diskusi via telepon dengan Wakil Perdana Menteri China Liu He, Menteri Perdagangan China Zhong Shan, dan Gubernur PBoC Yi Gang.

Baca Juga:   BOJ Pertahankan Tingkat Tidak Berubah, Ketegangan Perdagangan AS - China Dalam Fokus

Serangkaian berita ini diterima oleh pelaku pasar sebagai indikasi akan dibukanya kembali perundingan antara AS dengan China. Oleh karenanya, mata uang komoditas dan segelintir mata uang negara berkembang langsung menguat kembali. Rupiah, Yuan China, Yen Jepang, dan Ringgit Malaysia berhasil mencuri peluang untuk rebound dalam perdagangan hari ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menanjak 0.91 persen ke level 6,267.34 seiring dengan perbaikan sentimen investor. Sebanyak tujuh dari sembilan sektor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencetak kenaikan. Sektor properti menampilkan kinerja terbaik dengan kenaikan lebih dari 2 persen, disusul oleh sektor industri dasar dan sektor keuangan. Hanya sektor agri dan aneka industri yang masih memerah.

Terlepas dari itu, sentimen pasar masih rentan terkoreksi kembali. Investor dan trader tetap mewaspadai kemungkinan AS berubah pikiran kembali mengenai perundingan dengan China. Permintaan terhadap aset-aset safe haven seperti Gold dan Yen masih cukup tinggi. Dalam situasi seperti ini, mata uang berisiko lebih tinggi seperti Rupiah masih sulit untuk secara berkelanjutan.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply