Kurs Rupiah Stabil Tapi Data Ekonomi Indonesia Memburuk

Bonus Welcome Deposit FBS

Referensi nilai tukar resmi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menguat dari Rp14,237 menjadi Rp14,190 dalam perdagangan hari ini (2/9), sementara kurs USD/IDR di pasar spot mata uang diperdagangkan dalam kisaran yang sama dengan akhir pekan lalu. Akan tetapi, laporan ekonomi hari ini mengenai sektor manufaktur Indonesia justru menampilkan profil yang lebih buruk karena efek dari perlambatan ekonomi global.

Kurs Rupiah Stabil Tapi Data Ekonomi Indonesia Memburuk

Menurut data dari IHS Markit, sektor manufaktur Indonesia mengalami kontraksi terbesar dalam lebih dari 2 tahun, karena banyak perusahaan memangkas produksi untuk merespons penurunan permintaan. Skor Purchasing Managers’ Index (PMI) untuk sektor manufaktur Indonesia jatuh dari 49.6 menjadi 49.0 pada bulan Agustus 2019.

Pesanan baru (new orders) jatuh untuk pertama kalinya dalam empat bulan terakhir, karena kemerosotan permintaan ekspor. Lebih lanjut, output merosot dengan laju tercepat sejak Desember 2017. Ketenagakerjaan juga berkurang, sedangkan tekanan inflasi tetap relatif lemah. Secara keseluruhan, laporan PMI Manufaktur Indonesia kali ini mengisyaratkan kondisi kontraksi berkelanjutan.

Berlanjutnya perang dagang AS-China sedikit banyak berdampak terhadap perekonomian Indonesia. Penurunan permintaan ekspor yang termuat dalam laporan IHS Markit, khususnya, disinyalir merupakan imbas dari perlambatan ekonomi global yang kini mulai menular ke ranah domestik.

Baca Juga:   BERITA SAHAM KAMIS 03/01/2019 - ANAK USAHA CMPP TERBITKAN SEKURITAS PERPETUAL KE AAB

Bernard Aw, ekonom dari IHS Markit, mengatakan bahwa perbandingan secara historis menunjukkan skor PMI terbaru konsisten dengan ekspansi GDP tahunan dengan laju di bawah 5 persen.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0.60 persen ke level 6.290.55; terkoreksi dalam basis harian, tetapi masih cukup solid dalam kerangka bulanan. Indeks saham sektor manufaktur jeblok hingga 1.08 persen, selaras dengan hasil publikasi data IHS Markit. Sebanyak lima dari sembilan sektor saham mengalami penurunan, yaitu sektor Aneka Industri, Infrastruktur, Finance, Barang Konsumsi, dan Properti.

Laporan inflasi yang dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistisk (BPS) mengonfirmasi lemahnya tekanan inflasi. Laju inflasi tahunan hanya naik dari 3.32 persen menjadi 3.49 persen (Year-on-Year) pada bulan Agustus 2019. Dalam basis bulanan, inflasi cuma meningkat 0.12 persen (Month-over-Month), padahal sebelumnya diharapkan naik 0.16 persen. Untungnya, pertumbuhan inflasi inti tetap solid dengan kenaikan dari 3.18 persen menjadi 3.30 persen (Year-on-Year), mengungguli ekspektasi yang dipatok pada 3.17 persen.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply