Kurs Rupiah Tembus Rp14,800 Per Dolar AS

Bonus Welcome Deposit FBS

Pelemahan kurs Rupiah makin parah akibat penguatan Dolar AS di tengah eskalasi perang dagang. Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate anjlok dari Rp14,767 ke Rp14,840 per Dolar AS dalam perdagangan hari Selasa ini (4/September).

Sementara itu, dalam pantauan platform FX_IDC, pasangan mata uang USD/IDR melonjak 0.82 persen dalam perdagangan intraday ke level Rp14,930. Dengan demikian, nilai tukar mata uang bersimbol Garuda ini boleh jadi telah mencapai kondisi terburuk sejak krisis 1997/1998.

Kurs Rupiah Tembus Rp14800 Per Dolar AS

Penyebab pelemahan kurs Rupiah terutama adalah penguatan Dolar AS dan eskalasi perang dagang AS-China. Sebagai salah satu negara berkembang, Indonesia terimbas oleh kecenderungan investor global untuk menghindari risiko dengan mengalihkan dana dari aset-aset berisiko tinggi ke aset-aset Safe Haven seperti Obligasi, Dolar AS, Yen Jepang, dan Franc Swiss.

Pemerintah AS telah merilis proposal untuk menerapkan tarif impor tambahan ketiga bagi barang-barang yang didatangkan dari Tiongkok. Dengar pendapat publik untuk proposal tersebut akan ditutup pada hari Kamis, sehingga Presiden AS Donald Trump kemungkinan bisa menerapkan aturan baru itu dalam bulan ini, atau secepat-cepatnya pada akhir pekan besok.

Baca Juga:   Outlook Mingguan USD / CAD : 30 September - 4 Oktober

Tiongkok kemungkinan tak bisa lagi membalas dengan menerapkan tarif impor tambahan pada AS, karena seluruh ekspor AS ke negeri Tirai Bambu telah dikenai bea dalam dua kali pengumuman sebelumnya. Oleh karena itu, pelaku pasar khawatir kalau Tiongkok bakal membalas dengan menghantam sektor jasa AS; hal mana dapat memperluas cakupan perang dagang yang tengah berlangsung.

“Dolar AS nampaknya menjadi mata uang perlindungan pilihan pelaku pasar ketika kekhawatiran mengenai perang dagang meningkat minggu ini, dan itu mengakibatkan masalah bagi negara-negara berkembang,” demikian dijelaskan oleh Richard Falkenhall, seorang ahli strategi senior di SEB Stockholm pada Reuters.

Negara-negara berkembang berpotensi menjadi korban terburuk di tengah eskalasi perang dagang. Pasalnya, banyak negara berkembang merupakan mitra dagang Tiongkok, termasuk Indonesia; sehingga apabila negeri itu mengalami perlambatan ekonomi akibat perang dagang, pengaruhnya tentu akan meluas.

Tiongkok juga dikenal sebagai salah satu negara dengan permintaan terbesar di dunia atas berbagai jenis komoditas. Pelemahan ekonominya dapat berefek pada penurunan harga-harga komoditas akibat menipisnya permintaan, sehingga para petani dan penambang di negara-negara berkembang bisa terkena imbasnya.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply