Kurs Rupiah Terendah Dalam Dua Dekade, Investor Asing Pilih Beli Obligasi

Bonus Welcome Deposit FBS

Kurs Rupiah terhadap Dolar AS resmi merosot ke level terendah dalam dua dekade pada perdagangan hari Jumat (31/Agustus) ini, karena krisis di Argentina dan Turki mengakibatkan para investor keluar dari negara-negara berkembang yang sama-sama memiliki defisit neraca transaksi berjalan yang besar.

Pada referensi kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dikelola oleh Bank Indonesia (BI), kurs Rupiah melemah dari Rp14,655 ke Rp14,711 per Dolar AS. Sementara itu, dalam pemantauan platform FX_IDC, pasangan mata uang USD/IDR telah melonjak hingga Rp14,725; level yang terakhir dihuni pada September 2015.

Kurs Rupiah Terendah Dalam Dua Dekade, Investor Asing Pilih Beli Obligasi

Meski demikian, menurut pemantauan platform Bloomberg, kurs Rupiah telah merosot hingga Rp14,750 per Dolar AS, posisi paling buruk sejak krisis finansial Asia 1998. Yield obligasi acuan Indonesia pun naik 5 basis poin ke 8.06 persen.

“Buruknya kinerja Rupiah secara relatif dibandingkan dengan negara berkembang lainnya, bersumber dari posisi pembayaran eksternal Indonesia yang lemah, khususnya defisit neraca transaksi berjalan,” ungkap Prakash Sakpal, seorang ekonom di ING Groep NV. Namun, ia mengakui bahwa, “kondisi saat ini jauh berbeda dengan 20 tahun lalu ketika krisis berasal dari Asia dan kredibilitas Rupiah jauh lebih lemah.”

Baca Juga:   NZD / USD Slide Lebih Rendah Dalam Perdagangan Risk-Off

Walaupun proyeksi ekonomi Indonesia terimbas oleh krisis Argentina dan Turki, tetapi investor asing tetap berminat membeli obligasi pemerintah. Hal ini dikarenakan kokohnya fundamental ekonomi domestik dan proaktifnya bank sentral.

Michael Every, pimpinan riste pasar Rabobank Group di Hong Kong, mengatakan pada Bloomberg bahwa walaupun ada aksi jual Rupiah, tetapi ada pula perbaikan mendasar dalam perekonomian Indonesia sejak krisis Asia 1998. Menurutnya, “Saya kira tak ada banyak risiko yang buruk bagi Rupiah (setidaknya) kecuali bila Tiongkok mendevaluasi mata uangnya secara signifikan.”

Terlepas dari itu, investor perlu memperhatikan bahwa kemerosotan kurs Rupiah telah memperparah defisit neraca transaksi berjalan Indonesia. BI melaporkan defisit telah meningkat menjadi USD8 Miliar pada kuartal II/2018, atau sekitar 3 persen dari Gross Domestic Product (GDP), dari USD5.7 Miliar pada kuartal sebelumnya. Pemerintah telah mengambil sejumlah kebijakan untuk menanggulangi pelemahan Rupiah, tetapi belum mampu menghentikannya secara efektif.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply