Masalah Brexit Tahan GBP/USD Di Level Terendah Tahun Ini

Bonus Welcome Deposit FBS

Laju inflasi konsumen Inggris dilaporkan mengalami kenaikan cukup pesat pada bulan Juli 2019 pada pertengahan sesi Eropa (14/8). Meski demikian, pasangan mata uang GBP/USD tetap terpuruk sekitar level 1.2050-an, kisaran terendahnya tahun ini. Para analis bahkan memperkirakan kalau Sterling bisa merosot lebih jauh lagi sebagai imbas dari ketidakpastian brexit.

Masalah Brexit Tahan GBPUSD Di Level Terendah Tahun Ini

Menurut UK Office for National Statistiscs (ONS) pertumbuhan Consumer Price Index (CPI) meningkat dari 2.0 persen menjadi 2.1 persen (Year-on-Year) pada bulan Juli 2019, atau sudah lebih dari target 2.0 persen yang diinginkan oleh bank sentral Inggris (BoE). Data CPI Inti juga mengalami kenaikan dari 1.8 persen menjadi 1.9 persen (Year-on-Year), melampaui estimasi awal.

Dalam kondisi normal, kenaikan data acuan inflasi hingga melampaui target bank sentral semestinya meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga pula. Namun, para pejabat bank sentral Inggris (Bank of England/BoE) telah berulang-ulang menyatakan bahwa mereka tak akan melakukan perubahan kebijakan apapun sebelum Inggris menyelesaikan rencana keluar dari Uni Eropa (brexit). Setelah merebaknya probabilitas “No-Deal Brexit”, BoE bahkan pernah mengisyaratkan kesediaan untuk memangkas suku bunga, jika perekonomian mengalami kekacauan setelah Inggris keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan apapun.

Baca Juga:   Outlook Mingguan USD / CAD : 28 Juli - 1 Agustus 2014

“Ketidakpastian brexit yang semakin meningkat dan perlambatan pertumbuhan (ekonomi) global yang terus berlanjut, telah meningkatkan risiko penurunan ekonomi Inggris menuju paruh kedua tahun ini. Sekarang kami meyakini bahwa ‘No-Deal Brexit’ lebih mungkin untuk terjadi, dan hal itu bisa mendorong perekonomian Inggris masuk ke dalam resesi,” kata Derek Halpenny dari MUFG.

Saat ini, tim analis MUFG mensinyalir ada probabilitas 60% untuk terjadinya “No-Deal Brexit”. Berdasarkan proyeksi tersebut, MUFG memperkirakan Poundsterling akan kehilangan 3.0 persen lagi dari nilai tukarnya versus Euro, dan kehilangan 9.0 persen lagi terhadap Dolar AS sebelum akhir tahun 2019.

Pandangan MUFG termasuk yang paling ekstrim dibandingkan rata-rata ekonom. Sebuah polling oleh Reuters pada awal bulan ini menunjukkan peningkatan ekspektasi “No-Deal Brexit” dari 30 persen menjadi 35 persen saja. Dengan kata lain, pelaku pasar memang semakin mengkhawatirkan skenario terburuk itu, tetapi belum sepenuhnya memperhitungkan dampak “No-Deal Brexit” dalam nilai tukar Poundsterling.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply