Mendag AS Nyatakan Trump Akan Naikkan Tarif Impor, Dolar AS Tumbang

Bonus Welcome Deposit FBS

Indeks Dolar AS (DXY) merosot sekitar 0.43 persen ke level 97.85 menjelang akhir perdagangan sesi New York hari ini (3/12), karena pelaku pasar panik menanggapi kemungkinan eskalasi konflik dagang AS-China. Sebuah pernyataan terbaru dari Menteri Perdagangan AS memicu kekhawatiran tersebut dengan mengisyaratkan waktu bagi perundingan dagang sudah hampir habis.

Mendag AS Nyatakan Trump Akan Naikkan Tarif Impor

Menteri Perdangan Wilbur Ross mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Fox News bahwa perundingan dagang AS-China sudah memasuki masa-masa kritis. Sesuai ancaman Presiden AS Donald Trump sebelumnya, mereka akan menerapkan kenaikan tarif impor baru untuk produk-produk asal China, apabila kesepakatan belum tercapai hingga tanggal 15 Desember 2019.

“Yah, Anda punya deadline logis pada 15 Desember. Jika tak ada yang terjadi antara sekarang hingga saat itu, Presiden telah menjelaskan bahwa ia akan menerapkan tarif itu-kenaikan tarif,” kata Ross.

Menurut Ross, kenaikan tarif impor untuk produk-produk konsumsi asal China yang akan diberlakukan pada tanggal 15 Desember itu tidak akan menganggu perayaan Natal masyarakat AS tahun ini. Alasannya karena para peritel sudah menyiapkan stok dan “kita memiliki sebuah perekonomian yang sangat kuat dan mereka punya banyak masalah”. Ia justru menilai saat ini merupakan momen yang tepat untuk mengumumkan kenaikan tarif impor baru.

Baca Juga:   Analisa EURUSD KAMIS 6/2/2014 dengan ASI (Analisa Simple)

Komentar Ross itu memicu pergolakan dahsyat di pasar forex. Apalagi, komentar tersebut disampaikan hanya beberapa saat setelah data hasil survei Purchasing Managers’ Index (PMI) untuk sektor manufaktur AS merosot dari 48.3 menjadi 48.1 pada bulan November; berkebalikan dengan kinerja manufaktur China yang unggul dalam periode yang sama. Klaim Ross gagal menenangkan pasar yang telah khawatir terhadap outlook ekonomi Amerika Serikat ke depan.

Dolar AS merosot hingga 0.5 persen ke level 108.96 terhadap Yen Jepang, karena investor dan trader berusaha mencari aset-aset yang lebih aman. Greenback menjadi aset paling banyak dicampakkan, sementara Euro dan Yen mendulang kenaikan signifikan.

“Dolar tumbang akibat headline (yang menyebutkan) bahwa Trump akan menaikkan tarif impor bagi China jika tak ada deal per 15 Desember menurut Menteri Perdagangan Ross,” ungkap Viraj Patel, seorang analis forex dari Arkera.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply